Banyak Startup PHK Karyawan, Inikah Penyebabnya?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 31 Mei 2022 15:52 WIB
Ilustrasi Startup
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Sejumlah perusahaan rintisan alias startup melakukan PHK massal ke karyawannya. Salah satu faktor utamanya ialah, terkait makro ekonomi secara global yang penuh ketidakpastian selama pandemi Covid-19 dua tahun terakhir.

Apakah fenomena ini akan menjadi awal bubble burst alias ledakan gelembung startup di Indonesia?

Menurut Indeed.com, kesenjangan antara jumlah lowongan yang terbuka dan jumlah lulusan sangat tinggi. Ada 600.000 lowongan muncul setiap tahun, sedangkan jumlah lulusan universitas hanya 50.000 per tahun. Jadi, untuk setiap CV ada 12 lowongan yang dibuka sehingga menghasilkan perbedaan yang drastis.

Tidak hanya kurang dari sisi kuantitas, namun kurangnya pelamar kerja yang berkualitas juga tentu dapat menghambat pertumbuhan perusahaan di Indonesia. Meskipun, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia, namun sekitar 50% penduduknya berusia di bawah 30 tahun.

Institusi pendidikan lokal pun tidak dapat mengatasi permintaan yang tinggi dari perusahaan sehingga, pengusaha Indonesia pun harus mempekerjakan orang dari negara lain yang memenuhi syarat untuk pekerjaan tersebut.

Gelombang PHK massal yang kemungkinan besar akan melanda startup di Indonesia dalam waktu dekat semakin memperburuk keadaan yang sudah terjadi karena COVID-19.

Kementerian Tenaga Kerja mencatatkan lebih dari 1,2 juta karyawan dari 74.439 perusahaan terdampak kehilangan pekerjaan. Selain itu gencarnya otomatisasi dan robotisasi pun dapat menambah risiko lebih banyak masyarakat Indonesia kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat.

Menurut data yang diterbitkan pada November 2020 di Journal of Robotics and Control, pada 5 negara ASEAN yang diteliti, peneliti menemukan bahwa 56% karyawan saat ini menghadapi risiko tinggi otomatisasi.

Tim Refocus mengajarkan profesi digital kepada orang-orang, dimana bidang ini sedang diminati pasar dan akan berlangsung dalam jangka waktu lama. Google Indonesia memperkirakan bahwa ekonomi digital negara akan bernilai sekitar Rp 1,7 kuadriliun atau US$ 124,1 miliar pada tahun 2025. Nilai ini tiga kali lipat dari tahun 2020 dengan nominal Rp 548,2 triliun.

Menurut laporan terbaru oleh perusahaan konsultan strategi AlphaBeta, karyawan dengan keterampilan digital memiliki potensi untuk berkontribusi lebih dari Rp 4 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2030.