ADVERTISEMENT

Sudah Dapat 'Duit' Jumbo, Deretan Startup Malah Bangkrut

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 02 Jun 2022 21:15 WIB
Ilustrasi startup
Foto: Oli Scarff/Getty Images
Jakarta -

Sekarang ini banyak perusahaan startup yang tengah menghadapi kondisi kritis. Tidak sedikit di antara perusahaan-perusahaan ini yang terpaksa harus mengambil langkah pemutusan hubungan kerja atau PKH terhadap karyawannya secara besar-besaran.

Tidak cuma PHK, sejumlah perusahaan memilih untuk melakukan pembekuan perekrutan karyawan baru.

Melansir dari CNBC, Kamis (2/6/2022), bahkan perusahaan sekelas Snap, Facebook, Uber dan Lyft semuanya mengatakan bahwa perusahaannya akan memperlambat atau membekukan perekrutan karyawan baru dalam beberapa bulan mendatang. Sementara itu perusahaan startup seperti Robinhood dan Peloton telah mengumumkan PHK.

Kondisi ini sangat kontras dengan yang terjadi saat 2021 lalu, di mana banyak banyak investor yang berbondong-bondong untuk membanjiri perusahaan-perusahaan startup ini dengan dana segar.

Berdasarkan catatan dari CB Insight, diketahui bahwa 70% perusahaan startup teknologi harus gulung tikar setelah sekitar 20 bulan setelah penggalangan dana pertama (dengan total pendanaan sekitar US$ 1,3 juta). Bahkan di antara perusahaan-perusahaan ini ada yang tetap harus gulung tikar meski mendapat pendanaan di atas US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,45 triliun (kurs Rp 14.500/dolar AS).

Berikut sejumlah startup yang tetap harus gulung tikar meski mendapatkan pendanaan di atas US$ 100 juta

1. Nice Tuan

investor: Alibaba Group, GGV Capital, DST Global
Total dana yang diterima: US$ 1,2 miliar

Ketika startup ini berkembang di kota-kota kecil di China, biaya kelola perusahaan naik secara tidak proporsional. Barang dijual dengan harga di bawah biaya untuk menarik pelanggan. Pembeli palsu muncul di setiap akhir bulan untuk memenuhi target penjualan membuat regulator khawatir.

Nice Tuan dilaporkan memiliki target penjualan 80 miliar yuan pada tahun 2021 tetapi menghasilkan tidak lebih dari 2 miliar di bulan yang baik. Pada bulan Maret, Meituan, Nice Tuan, Pinduoduo dan Xingsheng Youxuan, masing-masing didenda 1,5 juta yuan karena penipuan dan pembuangan.

Pada bulan Mei, Nice Tuan didenda karena iklan yang menyesatkan. "Denda benar-benar mengikat tangan kami," kata seorang mantan karyawan. 'Kami tidak dapat melakukan jenis promosi yang dilakukan pesaing kami, yang sangat merugikan penjualan.'"

2. Fast

Investor: Index Ventures, Stripe, Addition, Global Founders Capital
Total dana yang diterima: US$ 125 juta

Perusahaan startup checkout sekali klik, Fast, terpaksa harus ditutup sepenuhnya dan akan menghentikan produk dan mereknya. Hal ini merupakan kehancuran yang cukup besar bagi perusahaan fintech yang telah mengumpulkan dana US$ 120 juta dari para pendukung termasuk raksasa pembayaran Stripe, Index Ventures, dan Lee Fixel's Addition.

Fast sendiri merupakan startup yang bertujuan untuk mengubah belanja online dengan membuatnya lebih mudah untuk check out di berbagai toko secara langsung.

3. LendUp

Investor: Andreessen Horowitz, Google Ventures, Y Combinator, PayPal Ventures
Total dana yang diterima: US$ 366 juta

LendUp didukung oleh beberapa nama besar dalam modal ventura seperti Google dan PayPal. Namun perusahaan ini harus menutup operasi pinjaman fintech-nya karena berulang kali berbohong dan menipu pelanggannya secara ilegal.

4. Yunniao

Investor: GSR Ventures, Matrix Partners China, Sequoia Capital China
Total dana yang diterima: US$ 210 juta

Perusahaan startup ini diklaim telah menunggak pembayaran gaji sejumlah karyawannya hingga tiga bulan. Hal ini membuat lebih banyak karyawan lainnya yang merasa tidak puas terhadap perusahaan.

Selain itu karyawan Yunniao mengklaim bahwa mereka dipaksa untuk membeli produk keuangan perusahaan, dan bahwa pengemudi diharuskan membayar deposit 4.000 yuan sebelum mereka bisa mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak pernah dikembalikan.

Hal ini tentunya membuat para pekerja hingga investor geram. Secara terpaksa perusahaan ini harus gulung tikar karena kegagalan management

5. KupiVIP

Investor: MCI Capital, Accel, Balderton Capital, Intel Capital
Total dana yang diterima: US$ 119,5 juta

KupiVIP merupakan startup ritel online yang beroperasi di Russia. Operasional KupiVIP sendiri melibatkan operasi di seluruh situs web, aplikasi seluler, dan toko ritel fisiknya.

Semua ini membutuhkan modal yang signifikan, mengingat ukuran pasar Rusia. Kendati demikian perusahaan ini kurang menguntungkan, tidak semua pemain lokal mampu atau mau berinvestasi di perusahaan. Hal ini membuat perusahaan jatuh bangkrut.

6. Katera

Investor: SoftBank Group, Greenoaks Capital Management, Foxconn Technology Company, Khosla Ventures
Total dana yang diterima: US$ 1,5 miliar

Kejatuhan Katera menandai kegagalan paling menonjol untuk SoftBank sejak IPO WeWork 2019 yang gagal. Perusahaan sebagian besar telah melihat keuntungan di antara portofolio Vision Fund pada tahun lalu di tengah reli saham teknologi yang lebih besar, meskipun beberapa dari keuntungan tersebut telah surut dalam beberapa bulan terakhir.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT