ADVERTISEMENT

Dedi Mulyadi Minta Pemerintah Serius Atasi Wabah PMK Hewan Ternak

Nada Zeitalini Arani - detikFinance
Rabu, 08 Jun 2022 18:43 WIB
Politikus Golkar Dedi Mulyadi
Foto: istimewa
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi menilai Kementerian Pertanian (Kementan) tidak serius mengatasi wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak. Sebab jumlah hewan ternak yang mati saat ini akibat PMK terus bertambah dan meluas ke berbagai daerah di Indonesia.

"Ada problem besar tapi dianggap kecil," tutur Dedi dalam keterangan tertulis, Rabu (8/6/2022).

Hal itu disampaikan Dedi Mulyadi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Eselon 1 Kementan di Gedung DPR RI, Rabu (8/6).

Pria yang akrab disapa kang Dedi ini menuturkan langkah pertama yang seharusnya dilakukan oleh Kementan adalah memusnahkan hewan yang terinfeksi PMK. Tujuannya agar tidak terjadi penularan ke hewan ternak lainnya. Selanjutya hewan ternak milik masyarakat tersebut diganti oleh Kementan.

Ia menjelaskan bahwa butuh waktu lama jika menunggu vaksin. Sementara tidak semua orang adalah peternak besar yang bisa mengasuransikan hewan. Banyak peternak yang hanya memiliki satu hingga empat ekor dan itu disiapkan untuk kebutuhan Idul Adha mendatang.

"Saya katakan dari awal seharusnya negara merumuskan kebijakan awal dulu untuk memusnahkan dan mengganti, kedua mengkoordinasikan tanya seluruh gubernur panggil seluruh wali kota/bupati sampaikan bahwa ada ancaman pada rakyat kita," ucapnya.

Lebih lanjut, Dedi menyebut Kementan tidak memiliki data sebaran dokter hewan di daerah. Padahal dokter tersebut bisa sangat membantu ternak di daerah yang terkena PMK.

"Saya setiap hari bertemu dengan peternak tidak ada mereka pengetahuan soal PMK. Saya pastikan tidak ada dokter hewan yang ke kandang, tidak ada desinfektan ke kandang, tidak ada suntik vitamin, kalaupun ada itu sampel. Turun instruksi, datang tiga orang, foto selfie kemudian balik lagi. Ini problem," ujar Dedi.

Tak hanya itu, di tengah wabah virus PMK pada hewan ternak di Indonesia ini, Dedi juga mempertanyakan rasa nasionalisme para pejabat di Kementan yang belum lama ini pergi ke Brazil.

"Negara lalai, pemimpin yang lebih memilih ke luar negeri dibanding tengok rakyat kita. Saya secara pribadi miris hati kebangsaan saya, di tengah rakyat bergulat dengan ancaman kematian dan kemiskinan bapak (pejabat Kementan) malah ke luar negeri dengan berbagai argumentasi. Kalau hanya diplomasi cukup satu orang gak usah semua. Apakah bapak kalau tidak ikut ke luar negeri akan diberhentikan jadi Dirjen? Di mana nurani bapak? Lebih baik mundur saja," ungkap Dedi.

Dedi juga bersikap tegas dengan sikap Kementan yang terus berargumentasi menunggu vaksin PMK dari luar negeri yang baru akan datang pada Juli. Sementara kita tahu bahwa virus PMK terus menyebar dan meluas. Oleh sebab itu ia berharap penanganan PMK bisa dilakukan sama dengan COVID-19. Keduanya sama-sama memiliki dampak kematian serta kemiskinan pada masyarakat khususnya petani dan peternak.

"Ini yang harus menjadi perhatian ada langkah konkret jangka pendek apa yang mau dilakukan sambil nunggu vaksin. Jangan sampai vaksin ada sapi sudah tidak ada. Nanti siapin vaksin 18 juta ekor pas divaksin sapi tinggal 100 ribu. Harus ada kebijakan tepat karena ini bicara ekonomi rakyat kecil," tuturnya.

Di akhir, Dedi meminta Kementan untuk mampu menjelaskan asal usul wabah PMK yang tiba-tiba menyebar di Indonesia.

Sebelumnya pada Kamis (2/6), Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkap jika Kementan berencana memproduksi vaksin mandiri lewat Pusat Veteriner Farma (Pusvetma) di Surabaya. Sebagai langkah darurat hadapi Idul Adha, Kementan akan mengimpor vaksin dari beberapa negara. Yasin menekankan jika vaksin PMK sudah mulai masuk sebelum Idul Adha.



Simak Video "Waspadai Penyakit Mulut dan Kuku, Parepare Perketat Lalu Lintas Ternak"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT