ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Kesaksian Warga RI Badai Inflasi di AS: Harga Naik Gila-gilaan!

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 11 Jun 2022 11:15 WIB
Nilai tukar rupiah pada Selasa (16/7/2013) pagi kembali bergerak melemah ke posisi Rp 10.010 per dollar AS seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi China. Per hari ini rupiah melemah 20 poin sehingga menjadi Rp 10.010 dibanding posisi sebelumnya di Rp 9.990 per dollar AS. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pandemi dan perang di Ukraina memberi tekanan kepada ekonomi Amerika Serikat (AS). Berbagai komoditas barang mengalami kenaikan dan terus mencatatkan rekor tertingginya.

Berdasarkan kesaksian warga Indonesia yang tinggal di Los Angeles, Meidy, hampir semua jenis komoditas mengalami kenaikan. Hal ini terjadi di seluruh wilayah AS.

"Kalau harga-harga naik iya, gila-gilaan naiknya. Dan mayoritas semua naik," kata Meidy saat dihubungi detikcom, dikutip Jumat (10/6/2022). Selain itu, stok dan suplai barang juga tidak selancar tahun sebelumnya.

Ia mencontohkan kenaikan harga pada Bahan Bakar Minyak (BBM). Saat ini harga BBM di wilayahnya berkisar antara US$ 6 atau Rp 86.400 sampai US$ 7 atau Rp 100.400 (kurs Rp 14.400) per galon. Sebelum perang Ukraina harga bensin paling mahal masih di angka US$ 4 atau Rp 57.600.

Tingginya harga bensin memicu aksi kriminalitas. Beberapa kasus pencurian dilaporkan dengan modus melubangi penutup bensin memakai bor, lalu menguras bensin di dalamnya.

Sebelumnya American Automobile Association (AAA) menyebut harga BBM di 50 negara bagian AS sudah melebihi US$ 4 per galon. California menjadi negara bagian dengan harga BBM termahal sekitar US$ 7.

Kenaikan harga juga dialami barang-barang komoditas pokok. Ayam potong dan daging misalnya, yang naik hampir dua kali lipat. "Daging ayam naiknya juga lumayan. Biasanya 1 ekor pas pandemi saya beli US$ 7 sudah ukuran lumayan besar. sekarang jadi bisa US$ 13," ungkapnya.

Meidy menjelaskan jika dampak perang Ukraina bagi warga AS lebih terasa dibandingkan dengan pandemi. Pandemi sempat membuat stok beberapa barang mengalami kelangkaan. Namun, tidak membuat harganya melambung seperti sekarang.

Jumlah tunawisma di AS juga mengalami peningkatan. Banyak orang tidak mampu membayar biaya sewa apartemen sehingga harus menjadi gelandangan.

Menurut Meidy banyak orang memilih keluar dari pekerjaannya karena pertimbangan gaji. Namun, mereka sulit mendapat pekerjaan baru akibat belum pulihnya ekonomi setelah pandemi.

Pasar modal AS turut terdampak akibat kondisi ekonomi global saat ini. Saham perusahaan raksasa seperti Amazon dan Apple anjlok cukup drastis. Menurut Meidy, ketakutan akan resesi yang diprediksi analis sudah mulai terjadi di AS.

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT