Utang IMF 'Tersandera' oleh JBIC Tidak Masuk Akal
Kamis, 08 Jun 2006 18:15 WIB
Jakarta - Terganjalnya pelunasan utang ke IMF gara-gara utang ke Japan Bank for International Corporation (JBIC) dinilai tidak masuk akal. Hal itu juga menjadi bukti tidak transparannya pemerintah soal utang."Kan lucu sekali utang IMF tersandera oleh JBIC, tidak masuk diakal, ini persyaratan yang diluar nalar," kata Anggota Komisi XI DPR RI Drajad Wibowo disela-sela acara seminar perbankan di Hotel Hilton, Jakarta, Kamis (8/6/6/2006).Drajad juga menuding pemerintah tidak transparan soal utang karena masalah paralelnya utang IMF dan JBIC baru diketahui ketika pemerintah hendak melakukan percepatan pembayaran utang IMF. Percepatan pembayaran utang IMF ternyata juga harus diikuti dengan percepatan pembayaran utang JBIC sebesar US$ 700 juta. Namun untuk membayar utang JBIC yang masuk dalam utang program tersebut, pemerintah tidak memiliki kemampuan finansial karena tidak dianggarkan dalam APBN 2006."Pemerintah kita itu tidak pernah transparan dalam soal utang itu sampai sekarang. JBIC juga salah satu contoh yang tidak transapran," tegas Drajad.Ia juga menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai tidak terbuka kepada DPR sebagai wakil rakyat terkait term and condition atas utang yang dilakukan oleh pemerintah.Drajad menambahkan, pemerintah harus melakukan renegoisasi dengan pihak JBIC agar percepatan pembayaran utang IMF tersebut tidak dikaitkan dengan utang JBIC.Lebih lanjut Drajad agar pemerintah menyampaikan utang-utang lain yang terkait atau paralel dengan utang lainnya agar tidak menjadi masalah di kemudian hari."Yang saya concern itu bukan hanya jumlah utangnya tapi term and condition-nya. Saya nanti akan minta lagi di DPR, ada tidak utang-utang yang paralel seperti ini lagi," tandasnya.
(qom/)











































