Soal Aturan Label BPA, Pengusaha Air Kemasan Minta BPOM Adil

ADVERTISEMENT

Soal Aturan Label BPA, Pengusaha Air Kemasan Minta BPOM Adil

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 12 Jun 2022 20:00 WIB
Fenomena tahunan kelangkaan air minum dalam kemasan (AMDK) khususnya kemasan galon terus terulang. Hal ini karena tersendat distribusi air galon tersebut. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pengusaha meminta agar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bersikap adil terkait pelabelan BPA. Menurut pengusaha, jika tetap ingin diterapkan, jangan hanya pada galon isi ulang.

Pemilik air minum dalam kemasan (AMDK) Al Ma'soem, Evan Agustianto, meminta BPOM bersikap adil dalam membuat kebijakan yang terkait dengan pelabelan BPA yang hanya ditargetkan untuk galon guna ulang. Dia menegaskan wacana pelabelan BPA ini dulu tidak pernah muncul dari BPOM karena memang sudah ada peraturan yang mengatur persyaratan migrasinya.

"Dulu tidak pernah muncul persoalan ini. Kenapa setelah salah satu produksi merek nasional yang menggunakan galon PET sekali pakai jadi ramai, ada apa ini. Saya menyampaikan hal itu di forum," ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (12/6/2022).

Ia mengatakan hanya menginginkan adanya keseimbangan dalam kebijakan pelabelan BPA ini. Padahal, kata dia, selama ini padahal BPOM sudah memilik regulasi yang mengatur tentang SNI.

Oleh karena itu, ia menyampaikan keheranannya, kenapa BPOM tidak memasukkan persyaratan BPA itu ke dalam parameter-parameter yang dituangkan dalam SNI.

"Kalaupun misalnya mau tetap membuat kebijakan BPA Free, mbok ya jangan diberlakukan untuk galon guna ulang saja, labeli juga dong untuk galon PET dengan kata Etilen Glikol Free. Karena, semuanya juga mengandung zat berbahaya. Apalagi sampai ada bahasnya ada air minum membunuh. Aduh, saya bilang luar biasa sekali. Itu sama saja BPOM menciptakan image yang negatif kepada produk AMDK galon guna ulang ini walaupun BPOM mengatakan tidak melarang penggunaan galon PC," paparnya.

Sebelumnya, Willy Bintoro Chandra, Pembina DPD Aspadin Jawa Tengah dalam diskusi media 'Kebijakan Sektoral dan Diskriminatif, Ancaman bagi Persaingan Usaha yang Fair' yang diselenggarakan secara online baru-baru ini mengatakan dari tahun 1973 sampai 2021, industri AMDK selalu mengalami pertumbuhan. Menurutnya, perusahaan yang terlibat di industri ini juga cukup tinggi, mencapai 278 perusahaan yang tergabung di dalam Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin).

"Jadi, industri ini merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia," katanya.

Dia mengutarakan dari pertumbuhan atau penyebaran AMDK berdasarkan area dan pemasaran, galon guna ulang merupakan kemasan yang paling banyak diproduksi oleh industri AMDK. Karenanya, dia menyayangkan adanya kampanye hitam terhadap galon guna ulang yang dilakukan sejak tahun 2020 lalu hingga saat ini, dengan menyebarkan isu bahwa galon guna ulang mengandung BPA yang membahayakan kesehatan.

"Tapi, saya katakan bahwa semua itu tidak benar. Galon ini sudah digunakan sejak tahun 1984 dan tidak pernah terdengar membahayakan kesehatan masyarakat. Malah galon guna ulang ini menjadi favorit digunakan sebab ramah lingkungan karena bisa digunakan berulang," katanya.

Dia menyampaikan ratusan produsen AMDK juga telah telah menyerap ribuan tenaga kerja. Bahkan di masa pandemi juga, kata Willy, hanya kemasan galon yang masih mampu bertumbuh.

"Jadi, tidak habis pikir saya jika ada orang yang dengan sengaja menghembuskan isu negatif terhadap galon guna ulang dengan mengatakan tidak higienis melalui media televisi, media cetak, media online, dan media sosial, dan itu mulai didengungkan sejak tahun 2020 lalu," terangnya.



Simak Video "Waspada! Ditemukan Kandungan Mikroplastik di Air Galon"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT