ADVERTISEMENT

CT Bicara Fenomena Lonely Economy di Depan Pengusaha Muda, Seperti Apa?

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 13 Jun 2022 18:21 WIB
Indonesia Young Leaders 2022
Foto: Indonesia Young Leaders 2022
Jakarta -

Sejumlah pebisnis kawakan nasional berbagi tips dan tantangan menjadi pengusaha sukses. Mereka bicara di acara Indonesian Young Leader Forum 2022.

Pengusaha nasional yang hadir dalam acara yang diadakan dalam rangka HUT HIPMI ke-50 antara lain Chairman CT Corp Chairul Tanjung, Ketua Kadin Arsjad Rasjid dan pejabat pemerintah yang juga pengusaha yaitu Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno juga Menteri Perdagangan M Lutfi.

Chairman CT Corp Chairul Tanjung, mengungkapkan satu fakta menarik yang juga dapat menjadi prospek bisnis anak muda ke depannya, yakni fenomena Lonely Economy.

Mengutip laporan McKinsey, sambung CT menambahkan, istilah Lonely Economy yang juga menjadi tren baru ini mendorong munculnya pola konsumsi baru.

"Saya ambil contoh yang gampang, di Jepang itu terjadi satu fenomena dimana penduduknya bukan bertambah, malah berkurang setiap tahunnya," ungkap CT.

"Fenomena ini terjadi akibat keinginan menunda pernikahan atau perkawinan atau sama sekali tidak menikah atau kawin. Kalaupun mereka menikah atau kawin mereka memutuskan untuk tidak memiliki anak," sambung dia.

CT menambahkan, alasan menunda pernikahan atau perkawinan didasari alasan biaya hidup yang tinggi hingga pendidikan yang mahal dan membuat kehidupan mereka terganggu. Akibatnya, terjadi perubahan perilaku dalam kehidupan mereka.

"Saat mereka dewasa, menikah, bekerja, punya penghasilan, tidak punya istri atau suami, mereka tinggal di rumah yang tidak rumah, mungkin apartemen tipe studio dan dia tidak masak dan tidak perlu belanja ke pasar. Semua kebutuhan dia diperoleh dengan pola daring (online). Jadi, tren ke depan, kehidupan orang itu dikelola oleh handphone," bebernya.

Hal ini akan terkait dengan pola konsumsi masyarakat ke depannya. Dia mengatakan, seluruh transaksi terkait kebutuhan hidup pun bakal dilakukan melalui digital bank. Bahkan, Chairul menyebut bahwa the future bank adalah bank yang mampu mengelola kehidupan orang, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Hal ini pun menjadi motivasi bagi CT Corp mengembangkan Allo Bank.

"The future bank adalah bank yang mampu mengelola hidupnya orang karena semua infrastruktur orang memerlukan transaksi. Gak ada yang gak memerlukan transaksi, ini juga berkaitan dengan the lonely ekonomi tadi," terangnya.

Sementara itu, Menteri Perdagangan M Lutfi mengatakan, peluang saat ini berada pada komoditas emas menyangkut Indonesia Emas 2045. Dirinya juga menambahkan, demi mendukung peningkatan pendapatan per kapita Indonesia hingga mencapai US$ 19.500 (setara Rp 286,56 juta), investasi sebagai komponen GDP harus tumbuh hingga 39%.

"Iklim investasi harus membaik terus," kata dia.

Tidak hanya itu, Lutfi menambahkan kalau sub sektor perdagangan juga harus tumbuh 51%. Menurutnya, ekonomi Indonesia harus terbuka.

"Bukan hanya menjual, tapi juga membeli," ujarnya.

Dia melanjutkan, dunia usaha harus beradaptasi. Bukan lagi sebatas menjalin jaringan. Bukan lagi berbasis pada resource based economy, namun harus berorientasi pada knowledge based economy.

"Kita tutup ekspor ore nikel sebesar US$ 1,1 miliar. Tapi di tahun berikutnya menjadi US$ 10,6 miliar, jualnya stainless stell dari proses nilai tambah," terang Lutfi seraya berharap pengusaha pemula juga memahami prinisp bisnis terkait ekosistem blockchain, kecerdasan buatan, big data, dan teknologi finansial.



Simak Video "Soal Teriakan 'Lanjutkan' yang Diwanti-wanti Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT