Milenial Tajir AS Lebih Pede Lawan Krisis Ketimbang Investor Jadul

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Kamis, 16 Jun 2022 10:43 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan hingga menembus rekornya selama satu tahun belakangan ini. Nilai tukar rupiah tembus level Rp 9.849/US$, pada Senin (27/5/2013) kemarin. file/detikfoto
Ilustrasi Kekayaan Orang AS (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta -

Para jutawan milenial di Amerika Serikat menganggap inflasi sebagai ancaman No. 1. Meski begitu, mereka lebih percaya diri hadapi inflasi dibandingkan dengan mereka yang lebih tua.

Menurut Survei Jutawan CNBC terbaru, sebagian besar jutawan milenium merasa optimis tentang ekonomi AS, dengan hampir tiga perempat mengharapkan perbaikan pada akhir 2022.

Kekhawatiran terhadap inflasi menjadi tema dari survei tersebut, di mana 37% jutawan mengatakan inflasi adalah risiko terbesar bagi ekonomi selama 12 bulan ke depan, dilansir melalui CNBC, Rabu (15/06/2022).

"Ini adalah pertama kalinya para jutawan dalam survei mengatakan bahwa inflasi adalah ancaman No. 1, baik untuk pasar saham, ekonomi, maupun kekayaan bersih pribadi mereka," kata Robert Frank, editor kekayaan CNBC, mengungkap temuan di KTT Penasihat Keuangan.

Meski begitu, para jutawan milenial yang disurvei itu memiliki optimisme yang tinggi daripada rekan-rekan mereka yang lebih tua. Bahkan, lebih dari setengahnya sangat yakin dengan kemampuan Federal Reserve untuk mengelola inflasi.

Menurut servei, mayoritas jutawan itu mengatakan, mereka berpikir inflasi hanya akan berlangsung enam bulan sampai satu tahun. Berbeda dengan generasi tua yang berpikir kalau inflasi itu akan bertahan selama satu sampai dua tahun atau lebih.

"Para jutawan milenial tidak hanya menjadi jenis investor yang berbeda, tetapi juga spesies investor yang sama sekali berbeda," kata Frank.

Dalam menanggapi inflasi, jutawan muda lebih cenderung membeli saham dan aset pendapatan tetap, serta cenderung tidak memiliki jumlah uang tunai yang lebih tinggi. Karena hal itu, hampir 70% jutawan memiliki penasihat keuangan. Persentasenya pun meningkat menjadi hampir 90% untuk milenium.

"Mereka aktif di pasar, mereka membeli lebih banyak saham dengan harga dua kali lipat dari generasi baby boomer," kata Frank. "Dan itu sekali lagi mencerminkan optimisme itu," tambahnya.

Frank juga menambahkan, tentu saja milenium memiliki garis waktu investasi yang lebih lama, yang mungkin cocok dengan pendekatan yang lebih agresif.

Meski begitu, sebagian besar jutawan yang disurvei belum mengurangi pengeluaran di tengah kenaikan inflasi. Generasi millennial lebih cenderung mengubah kebiasaan mereka. Hal ini ditunjukkan melalui hampir setengah, 48%, menunda pembelian mobil baru, 44% menunda membeli rumah, dan 62% lebih sedikit memberi untuk amal.

(dna/dna)