ADVERTISEMENT

UMKM Nggak Cukup Andalkan Online Kalau Mau Cuan, Jangan Lupakan Hal Ini

Aulia Damayanti - detikFinance
Sabtu, 18 Jun 2022 14:32 WIB
Ilustrasi Belanja Online
UMKM Nggak Cukup Andalkan Online Kalau Mau Cuan, Jangan Lupakan Hal Ini/Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tidak cukup mengandalkan penjualan online jika ingin bertahan. Seiring meredanya pandemi COVID-19 penjualan fisik juga masih diperlukan.

Berdasarkan studi Sirclo, 74,5% konsumen masih berbelanja baik offline dan online selama pandemi COVID-19. CEO dan co-founder Blibli, Kusumo Martanto mengatakan bahwa masa depan ritel setelah pandemi sebagai integrasi antara kanal online dan offline, atau omnichannel.

Oleh karenanya, Blibli terus memperkuat ekosistem omnichannel-nya diantaranya melalui Blibli InStore, Click and Collect, dan Blibli Mitra, yang menghubungkan operasi bisnis online dan offline dalam ekosistem yang terintegrasi bagi mitra ritel Blibli.

"Belanja omnichannel telah menjadi norma yang baru. Kita harus bisa siap untuk memberikan layanan omnichannel yang cepat dan tanpa cela," kata Kusumo, dikutip Sabtu (18/6/2022).

Namun, para konsumen juga sudah banyak yang beralih belanja online. Para konsumen di Indonesia menggunakan platform e-commerce untuk membeli kebutuhan sehari-hari baik dari UMKM maupun perusahaan-perusahaan besar selama pandemi COVID-19.

"Selama pandemi, bagaimana orang-orang mendapatkan sanitizer, masker, obat-obatan-di situlah kami memainkan peran besar," katanya .

Selama pandemi, UMKM yang beralih ke kanal online memang bisa lebih bertahan. Berdasarkan penelitian tahun 2021 yang dilakukan oleh Blibli dengan Boston Consulting Group dan Kompas,
UMKM yang online bisa memiliki pendapatan 1,1 kali lebih tinggi dari UMKM yang hanya beroperasi offline.

Sementara UMKM yang online juga 2,1 kali lebih mungkin untuk menjual berbagai produk dalam skala nasional dan 4,6 kali lebih mungkin untuk mengekspor produknya ke luar negeri.

Tantangan Digitalisasi

Namun, proses digitalisasi di Indonesia bukannya tanpa tantangan. CEO Tiket.com, George Hendrata, menyatakan bahwa pelatihan untuk sumber daya manusia (SDM) masih diperlukan untuk merealisasikan potensi digitalisasi.

Hal ini diamini oleh Fock Wai Hoong, Kepala Deputi Teknologi dan Konsumen Temasek. Menurut Fock, berdasarkan survei Temasek bersama Google, talenta SDM memang tetap menjadi hambatan besar untuk perkembangan teknologi.

"Ini menjadi tantangan untuk kita semua, bagaimana untuk berfokus untuk reskilling dan upskilling populasi pekerja kita sementara kita bersiap untuk berpartisipasi di internet economy," pungkasnya.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT