Boediono: Perekonomian RI Bangkit Pada Semester II
Senin, 12 Jun 2006 18:33 WIB
Jakarta - Kondisi perekonomian global yang kini dipenuhi ketidakpastian telah menghempaskan ekonomi negara berkembang termasuk Indonesia. Jika pada semester I perekonomian Indonesia tak bisa berbuat banyak, maka pada semester II diharapkan bisa bangkit.Menko Perekonomian Boediono menjelaskan, ekonomi Indonesia akhir-akhir ini terkena gejolak eksternal yang menyebarkan 'virus' ke seluruh dunia. Imbasnya, dana-dana asing pun memilih keluar dari negara berkembang."Kita lihat pengaruhnya dan dampaknya terhadap harga saham, kurs dan ini berlaku bagi banyak negara. Rata-rata selama beberapa minggu terakhir ini IHSG beberapa negara berkembang turun sekitar 16 persen anjlok," ujar Boediono di kantor Presiden, Jakarta, Senin (12/6/2006).Mantan menkeu ini pun membeberkan sejumlah daat. Di Turki, penurunan indeks mencapai 30 persen, Brasil 20 persen. Sementara Indonesia sekitar 16-17 persen. "Ini menunjukkan kita menghadapi masalah bersama. Tapi intinya, bagaimana kita tetap menjaga sendi-sendi pengendalian dan pengelolaan ekonomi pada kuartal I," tegasnya."Kuartal II barangkali juga masih belum cukup kuat. Tetapi semester II kita mengharapkan adanya suatu kebangkitan yang bisa dijadikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi sebesar 5,7% yang masih bisa kita capai," tambahnya.Boediono bahkan berkeyakinan ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih dari 5,7 persen jika berhasil mendorong sisi permintaan dan melonggarkan suplai. Caranya antara lain melalui stimulus fiskal, mendorong investasi dan pelonggaran kebijakan moneter.Stabilitas Makro TerjagaDalam kesempatan tersebut, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah menjelaskan bahwa kondisi makro ekonomi cukup terjaga. Hal itu terlihat dari inflasi yang cenderung terus turun.Hal itu akan membuka kemungkinan bagi otoritas moneter untuk membuka kembali ruang bagi penurunan suku bunga agar investasi bisa kembali masuk.Sementara dari sisi ekspor impor, current account Indonesia surplus US$3,4 miliar di dalam kuartal I. "Sayangnya surplus dikarenakan impor barang modal menurun, yang artinya investasi belum seperti yang diharapkan," kata Burhanuddin.Pengeluaran BertambahSementara Menkeu Sri Mulyani menjelaskan, dari sisi pendapatan tidak terlalu meleset. Namun pengeluaran mengalami banyak perubahan terutama dari pos subsidi, pos pembayaran bunga utang luar negeri dan dalam negeri akibat perubahan suku bunga SBI termasuk perubahan kurs."Serta berbagai pengeluaran yang diidentifikasi karena adanya perkembangan baru-baru ini seperti adanya gempa di DIY dan keputusan MK untuk anggaran pendidikan," jelasnya. Dengan adanya hal-hal tersebut di atas, lanjut Sri Mulyani, pemerintah berharap bisa menutupi kekurangannya dengan tetap meminimalkan risiko. Sumber-sumber untuk pendanaan adalah dari penjualan surat utang negara (SUN) dan obligasi internasional. Juga dari pinjaman program dan proyek yang akan dibahas dalam CGI."Kita juga menggunakan sumber lain seperti dana privatisasi yang sudah diamanatkan dalam APBN 2006. Kita harapkan tetap dapat tercapai. Berbagai hal itu akan menjadi sumber penyusunan APBN P 2006 dan RAPBN 2007," tambahnya.
(qom/)











































