ADVERTISEMENT

Lepas dari Pandemi, Warteg Cs Kini Tersandera Harga Bapok Mahal

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Senin, 27 Jun 2022 13:13 WIB
Status Jakarta naik menjadi PPKM level 2 hingga 17 Januari 2022. Aturan pembatasan makan di Warteg pun kembali dilakukan.
Warteg CS di Kala Pandemi (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Pandemi virus Corona yang melanda Indonesia 2 tahun lebih telah menekan perekonomian masyarkat. Tekanan ekonomi utamanya timbul akibat penerapan pembatasan kegiatan masyarakat yang berimbas pada menurunnya aktivitas dan konsumsi masyarakat.

Pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sektor kuliner seperti warteg, rumah makan padang hingga penjual panganan tenda pinggir jalan turut merasakan imbasnya. Sepinya pengunjung membuat usaha mereka banyak yang gulung tikar.

Kini pandemi mulai reda. Namun muncul keresahan baru di antara pedagang yakni melambungnya harga-harga kebutuhan pokok. Beberapa komoditas pangan di kawasan DKI Jakarta pun harganya bertahap semakin melonjak. Kenaikan menimpa cabai, bawang, hingga terigus sekalipun. Padahal, sebagai UMKM sektor pangan, sayuran hingga cabai merupakan komponen utama yang membentuk biaya produksi mereka setiap harinya.

Pedagang nasi uduk di sekitar Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, bernama Leni (29) misalnya, Ia mengungkapkan berbagai bahan pokok yang dibelinya untuk berjualan semakin hari, semakin tak karuan.

"Semua apa-apa naik. Noh, saya beli bahan terigu Segitiga buat gorengan saja yang tadinya Rp 8 ribu sekarang jadi Rp 10.500. Telur tadinya Rp 30 ribu per 1 kg, jadi Rp 35 ribu," ungkapnya kepada detikcom, Senin (27/3/2022).

Leni yang berjualan nasi uduk dari jam 6 pagi hingga jam 11 siang itu mengaku, adanya kenaikan harga pangan itu membuatnya harus mengurangi pembelian beberapa komoditas, seperti cabai.

"Sekali sehari modal belanjakan Rp 300 ribu. Lah cabai naik pisan di pasar beli Rp 5 ribu aja udah nggak dapet. Paling nggak harus beli Rp 10 ribu ke atas belinya. Yang tadinya saya beli 1 kg cabai rawit merah, sekarang cuma beli berani Rp 20 ribu aja sedikit. Sambal juga saya campur pakai tomat," ungkapnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT