ADVERTISEMENT

Babak Belur, Maskapai Menjerit Minta Batas Tiket Pesawat Direvisi

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 29 Jun 2022 06:30 WIB
Wide-angle view of a modern aircraft gaining the altitude outside the glass window facade of a contemporary waiting hall with multiple rows of seats and reflections indoors of an airport terminal El Prat in Barcelona
Foto: Getty Images/iStockphoto/skyNext
Jakarta -

Lion Air Group buka-bukaan kondisi bisnis dihantam kenaikan harga avtur dan menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi itu membuat biaya perawatan pesawat menjadi lebih mahal.

President Director of Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro Adi mengatakan saat ini banyak vendor penyedia material tutup, sekalinya ada menyediakan harga lebih tinggi. Nilai tukar rupiah yang melemah juga membuat operator mesti mengeluarkan ongkos lebih besar sesuai kurs.

"Komponen yang harus kita bayar atau material, spare part, termasuk transportasi dan logistiknya itu sangat mahal sekali karena kita harus bayar dengan mata uang US$," katanya dalam RDP bersama Komisi V DPR RI, Selasa (28/6/2022).

Daniel berharap ada revisi Peraturan Menteri (PM) Nomor 20 Tahun 2019 yang mengatur formulasi perhitungan tarif batas bawah (TBB) dan tarif batas atas (TBA) untuk penetapan harga tiket pesawat. Pasalnya aturan itu disebut sudah tidak sesuai dengan kondisi sekarang.

"PM 20 Tahun 2019 dikeluarkan pada saat sebelum pandemi COVID-19 sehingga banyak sekali revisi atau paling tidak review yang harus dilakukan, paling tidak cost operasional pesawat bisa kita reduce," tuturnya.

Selain itu, adanya peningkatan lalu lintas udara yang berpengaruh terhadap waktu tempuh membuat operator harus mengeluarkan biaya produksi lebih tinggi. Daniel mencontohkan perubahan rute yang terjadi untuk penerbangan Jakarta-Tanjung Karang.

"Cengkareng ke Tanjung Karang itu yang dulu bisa kita tempuh dalam waktu 35 menit, sekarang mungkin karena ada traffic ini bisa sampai 50 menit bahkan 1 jam," bebernya.

Begitu juga dengan rute Bali-Lombok yang waktu penerbangannya berubah dan akhirnya berpengaruh ke ongkos produksi. Jika aturan yang lama tidak dikaji kembali, kata Daniel, bukan tidak mungkin jika operator penerbangan memilih menutup rute tersebut karena tidak untung.

"Bali-Lombok juga sangat rawan karena dari sisi flight time sudah berubah sehingga ini pun kalau tidak bisa di-review kembali maka kita tidak bisa, mungkin operator penerbangan lain juga tidak mau atau tidak sanggup untuk menjalankan karena dengan kondisi penumpang 100% penuh kita belum bisa ngambil profit dari situ," ujarnya.

Jumlah pesawat yang semakin terbatas juga menjadi salah satu penyebab utama tiket semakin mahal. Baca di halaman berikutnya.



Simak Video "Alasan Harga Tiket Pesawat Semakin Mahal"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT