ADVERTISEMENT

Harga Sawit Anjlok tapi Minyak Goreng Belum Turun, Pemerintah Harus Apa?

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Kamis, 30 Jun 2022 07:32 WIB
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022). Harga jual Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit tingkat petani sejak dua pekan terakhir mengalami penurunan dari Rp2.850 per kilogram menjadi Rp1.800 sampai Rp1.550 per kilogram, penurunan tersebut pascakebijakan pemeritah terkait larangan ekspor minyak mentah atau crude palm oil (CPO). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS
Jakarta -

Tingginya harga minyak goreng di tingkat konsumen tidak sebanding dengan harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani, yang tengah turun. Padahal, kelapa sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng di Indonesia.

Misalnya saja, harga sawit petani di Provinsi Riau yang terus merosot dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, saat ini harga tandan buah segar (TBS) sawit sudah di bawah Rp 1.000 per kg. Rata-rata, harga TBS di sana hanya pada kisaran Rp 990 per kg.

"Harga hari ini Rp 990 per kg untuk hantaran. Kalau jemput harga bisa Rp 940 per kg ," kata salah seorang petani sawit, Sultan kepada detikSumut, Jumat (24/6/2022) lalu.

Beberapa pekan lalu, harga TBS sempat menyentuh angka Rp 1.575 per kg. Namun, terus tertekan dan menyentuh level rendah.

"Sejak minggu lalu harga terjun terus dan sekarang sudah di bawah Rp 1.000 per kg. Tentu harga ini sudah tidak sesuai dengan biaya perawatan kebun," katanya.

Dengan harga tersebut, itu artinya untuk 1 ton sawit hanya bisa membeli 1 sak pupuk. Mengingat harga pupuk saat ini masih bertahan di angka tertinggi, yakni Rp 950 ribu per sak.

Hal senada disampaikan petani sawit asal Kuantan Singingi, Ali Wahidin. Menurut Ali, harga sawit di daerahnya rata-rata Rp 1.050 per kg.

"Kemarin panen harga Rp 1.050, tidak tahu sekarang. Mungkin sudah turun lagi harga," kata Ali.

Ali menilai harga tersebut tidak sesuai dengan biaya perawatan dan harga pupuk. Ia justru khawatir sawit tidak dipanen lagi karena harganya tidak sesuai.

"Dari kemarin turun terus. Takutnya malah nggak dipanen lagi karena harganya jatuh terus, upah panen sama pupuk saja sudah tidak tertutup kalau ini," katanya.

Ia justru heran harga sawit anjlok setelah larangan ekspor CPO dan bahan minyak goreng dicabut. Bahkan, jatuhnya harga sampai tidak terkendali.

Semantara, harga minyak goreng curah terlihat memang mengalami penurunan di beberapa pasar tradisional di Jakarta. Pemerintah saat ini pun tengah gencar untuk membuat harga minyak goreng bisa turun.

Sayang, pasokan minyak goreng curah dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 14.000/liter atau Rp15.500/kg masih sulit ditemukan. Di pasar Santa Jakarta Selatan misalnya, minyak goreng curah dibanderol antara Rp 16.000-Rp 18.000/kilogram.

"Ya karena ini kan bukan dari subsidi. Yang pasok ke sini jualnya di atas HET, masa kita jual di bawah itu," ujar Madin, pedagang di Pasar Santa kepada detikcom, belum lama ini.

Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengakui minyak goreng curah masih dijual di atas HET. Penyebabnya adalah pasokan yang belum merata. "Sekarang itu belum merata, tapi sudah banyak yang sudah di bawah HET kaya kemarin di Yogyakarta. Jadi permasalahannya belum tersalurkan sepenuhnya ke daerah-daerah," kata Oke.



Simak Video "Jokowi Ngaku Ditelepon Perdana Menteri, "Ngemis" Minta Dikirim Minyak Goreng"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT