ADVERTISEMENT

Liputan Khusus

Duka Badut Jalanan dan Manusia Silver, Terik Mentari hingga Dikejar Satpol PP

Aulia Damayanti - detikFinance
Minggu, 03 Jul 2022 17:00 WIB
Pandemi Covid-19 mempengaruhi semua aspek kehidupan, kesehatan hingga ekonomi. Tapi di sisi lain muncul profesi baru, di antaranya badut dan manusia silver, Minggu, 3/7/2022.
Foto: Aulia Damayanti
Jakarta -

Teriknya matahari bukan penghalang bagi manusia silver dan badut jalanan untuk menghibur pengguna jalan. Mereka menghibur dengan atraksi, manusia silver seolah mematung dengan gayanya dan badut jalanan menari diiringi dengan musik di radio kecilnya.

Berdasarkan pantauan detikcom di perempatan Ciledug cara kerja antara badut jalanan dan manusia silver ini bergantian di lampu merah perempatan Ciledug itu. Mereka selalu berkoordinasi kapan mereka bergantian atau di mana mereka akan turun.

Seperti Rina, seorang ibu yang terpaksa menjadi kepala rumah tangga karena harus bercerai dengan suaminya. Meski begitu, Rina tetap bekerja keras walaupun menjadi badut jalan demi menafkahi anak-anaknya untuk makan hingga sekolah.

Rina merupakan salah satu pengamen badut jalanan dari sekian banyak orang yang melakukan profesi itu. Ia biasa menghibur di lampu merah perempatan lampu merah Ciledug, tepatnya dekat dengan CBD Ciledug Tangerang.

Ia berangkat dari rumahnya di Gondrong, Cipondoh, Tangerang. Rina bilang hanya sekali naik angkutan kota (angkot) ke perempatan Ciledug ini.

Tak terlalu pagi untuk turun ke jalan, biasanya Rina dan rekan-rekannya mulai mengamen sekitar jam 10. Di mana di waktu itu sering kali matahari sudah menyengat ke sulit. Rina saat itu baru beberapa kali lampu merah, namun dirinya terasa sudah mandi keringat menggunakan kostum badut.

"Ini saya udah mandi keringat. Kalau kita ya gerah, dinikmatin aja. Kalau nggak turun anak nggak jajan, anak kan nggak tahu, anak dua di tinggal di rumah," ungkapnya.

Meski begitu, Rina mengatakan harus tetap menjalani pekerjaan itu untuk menghidupi anak-anaknya sekolah, makan dan tempat tinggal. Walaupun pendapatannya tidak menentu, belum lagi harus dipotong untuk membayar sewa kostum dan utang lainnya.

"Paling banyak ya Rp 100 ribu atau 150 ribu. Itu juga rezeki-rezekian, kalau lagi bagus. Seperti kemarin aja saya hanya bawa Rp 5 ribu aja ke rumah. Jadi utang lagi bayar sewa, belum ongkos, jajan anak" tutur Rina.

Rina juga mengatakan saat dirinya hanya mendapatkan pendapatan Rp 5 ribu sehari, karena dirinya baru turun ke jalan pada sore hari. Sementara pada paginya, dia tidak turun karena ada isu bakal ada razia besar-besaran.

Ia bilang pernah beberapa kali kejar-kejaran dengan Satpol PP. Menurutnya jika sudah tertangkap ya akan ditahan, namun akan diberikan pembinaan beberapa hari atau bulan.

"Pernah saya, lagi main, lewat Satpol PP kocar-kacir saya lari. Saya trauma soalnya pernah ditahan 2-3 hari waktu itu saat menjadi silver," ujarnya, sambil memperagakan adegan berlari menghindari Satpol PP.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT