ADVERTISEMENT

Viral Petani RI Ramai-ramai Jual Sawit ke Malaysia

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 04 Jul 2022 10:54 WIB
Aktivitas petani sawit Foto: Dok Polda Riau
Foto: Aktivitas petani sawit Foto: Dok Polda Riau
Jakarta -

Viral di media sosial Instagram, video petani ramai-ramai menjual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke Malaysia. Dalam video itu, petani mengirim menggunakan sampan atau perahu kayu dan truk.

Video pertama terlihat truk-truk berisi TBS mengantre, diduga suara petani mengatakan harga TBS di Malaysia lebih tinggi daripada di Indonesia Rp 5.000 per kilogram. Sementara di Indonesia hanya Rp 1.500-1.600/kg.

"Otw Malaysia, harga Rp 5.000/kg pusing kepala harga cuma Rp 1.600-1.500. Kita langsung ke Malaysia tak banyak cakap. Kita pusing.. ke Malaysia-lah," ujarnya dari video yang diunggah akun Instagram @majeliskopi08, dikutip Senin (4/7/2022).

Sementara video kedua, terlihat TBS dibawa ke Malaysia melalui sungai dengan sampan atau perahu kayu. Tidak jelas di wilayah mana, petani dalam video mengatakan akan membawa 30 ton TBS ke Malaysia.

"Oke guys, mau bawa buah ke Malaysia, kita bawa 30 ton soalnya harga buah di Indonesia seperti kata kata Indra Kenz 'wah murah banget'" tuturnya.

Melihat hal tersebut, saat dikonfirmasi Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan, hal itu dilakukan oleh petani sawit di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Utara.

"Itu bukan hoax, itu benar terjadi. Petani menjual TBS ke Malaysia menggunakan alat transportasi seadanya bertaruh nyawa. Ini masalah perut, mereka juga harus berpikir untuk keluarga," tuturnya kepada detikcom, Senin (4/7/2022).

Meski begitu, Gulat mengakui bahwa tindakan yang dilakukan oleh petani sawit tidak diizinkan oleh peraturan negara.

"Sekalipun itu tidak diizinkan secara peraturan negara. Tetapi ini masalah perut," lanjutnya.

Alasan petani menjual TBS ke Malaysia, karena banyak pabrik kelapa sawit (PKS) yang sudah tidak menerima TBS dari petani. PKS sendiri tidak menerima TBS karena pasokan sudah penuh dan tidak mampu lagi menampung.

"Banyak pabrik di sana menolak TBS dan sebagian besar pabriknya sudah tidak lagi beroperasi. Karena itu tangki CPO belum turun. Ekspor belum sama sekali (lancar)," lanjutnya.

Selain alasan pabrik TBS di Indonesia penuh, harga juga menjadi pertimbangan. Harga TBS di Malaysia itu sekitar Rp 4.800/kg, sedangkan di Indonesia khususnya di Kalimantan hanya Rp 800 sampai Rp 1.100/kg.

Sementara ini, menurut Gulat tidak ada perusahaan yang membeli TBS petani seharga Rp 1.600/kg, seperti yang diimbau Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan.

"Mereka kan juga berhitung, kalau dibeli Rp 1.600/kg harga CPO harus Rp 9.000, sementara CPO kita Rp 7.000, tumpur mereka dong. Mana ada perusahaan mau rugi," jelasnya.

"Imbauan itu (Rp 1.600) kami berterima kasih, tetapi itu bukan solusi untuk saat ini, solusinya bagaimana memperlancar ekspor supaya berputar," tutupnya.



Simak Video "Uji Coba Tuai Respons Positif, Ribuan Motor Listrik Akan Mengaspal di RI"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT