Arab Saudi Bisa Raup Rp 450 T dari Haji, Lebih Gede dari Jualan Minyak?

ADVERTISEMENT

Arab Saudi Bisa Raup Rp 450 T dari Haji, Lebih Gede dari Jualan Minyak?

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 07 Jul 2022 09:22 WIB
Muslim worshippers pray around the Kaaba at the Grand Mosque in Saudi Arabias holy city of Mecca on July 5, 2022. - One million people, including 850,000 from abroad, are allowed to participate in this years hajj -- a key pillar of Islam that all able-bodied Muslims with the means are required to perform at least once -- after two years of drastically curtailed numbers due to the coronavirus pandemic. (Photo by AFP) (Photo by -/AFP via Getty Images)
Suasana di Masjidil Haram/Foto: AFP via Getty Images
Jakarta -

Arab Saudi mulai memikirkan cara mendapatkan sumber pendapatan lain selain dari minyak. Salah satunya adalah dari pelaksanaan haji, yang memiliki potensi hampir 2 miliar umat Islam.

Setelah Raja Salman bin Abdulaziz mengambil alih kekuasaan pada 2015, Arab Saudi meluncurkan proyek senilai US$ 21 miliar demi memperluas Masjidil Haram di Makkah untuk menampung 300.000 jemaah tambahan. Setahun kemudian, Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengidentifikasi haji sebagai rencana untuk mendiversifikasi ekonomi Saudi pada 2030.

"Tidak seperti (sektor energi), di mana Arab Saudi selalu khawatir tentang pesaing di masa depan. Di bidang haji dan umrah mereka dijamin tidak memiliki persaingan," kata Direktur Penelitian di Bahrain, Omar Al-Ubaydli dikutip dari CNN, Kamis (7/7/2022).

Seperti diketahui bersama, ibadah haji kembali dilaksanakan tahun ini setelah terkendala dua tahun karena pandemi COVID-19. Ini kesempatan bagi ekonomi kota-kota suci Arab Saudi.

Pandemi COVID-19 menyebabkan jumlah jemaah haji menyusut menjadi 1.000 pada 2020 dan 60.000 pada 2021 ketika haji dibuka hanya untuk penduduk Arab Saudi. Tahun ini, kerajaan mengizinkan 1 juta umat muslim untuk melaksanakan ibadah haji.

Dampak Ekonomi Haji

Para ahli mengatakan manfaat ekonomi haji sangat kecil jika dibandingkan dengan harga minyak mentah yang berada di sekitar US$ 100 per barel dan menghasilkan miliaran dolar AS per hari. Meski begitu, potensinya yang besar dan belum dimanfaatkan dapat membawa kekayaan yang signifikan bagi Arab Saudi dalam jangka panjang.

"Wisata religi di Arab Saudi mungkin saat ini tidak memiliki kapasitas menghasilkan pendapatan, tetapi makna religius Makkah dan Madinah tidak akan pernah kering. Ini berfungsi sebagai pondasi penting untuk membangun sektor pariwisata Saudi yang lebih luas dan memasarkannya ke khalayak lokal, regional, dan internasional," kata lulusan Arab Gulf States Institute in Washington, Robert Mogielnicki.

Menurut Indeks Kota Tujuan Global terbaru Mastercard, Makkah menarik US$ 20 miliar turis pada 2018, terbanyak kedua setelah Dubai. Sebelum pandemi, pendapatan haji diperkirakan rata-rata US$ 30 miliar atau Rp 450 triliun (kurs Rp 15.000) per tahun dan menciptakan 100.000 lapangan pekerjaan pada 2022.

Jumlah jemaah telah menyusut secara signifikan selama pandemi, tetapi pemerintah menargetkan 30 juta peziarah pada 2030. Ibadah haji telah menguras keuangan pemerintah karena biaya infrastruktur, pemeliharaan, dan keamanan, tetapi telah menghasilkan banyak uang untuk sektor swasta.

Dalam dua tahun, Dana Investasi Publik milik negara berencana membuka proyek Rou'a Al Haram Al Makki yang jaraknya tidak lebih dari satu mil dari Ka'bah, dengan 70.000 kamar hotel baru dan 9.000 unit tempat tinggal. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi US$ 2,1 miliar untuk ekonomi Saudi.

Lihat juga video 'Zulhas Pamer Kemasan 'Minyakita', Diklaim Harga akan Sama se-Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT