ADVERTISEMENT

Ngeri... 4 Negara Ini Asetnya Disita Gegara Kena 'Jebakan' Utang China

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 26 Jul 2022 20:30 WIB
Infografis negara kena jebakan utang China
Foto: Infografis detikcom/Denny
Jakarta -

Dalam beberapa tahun terakhir China banyak menerima kritik lantaran praktik pinjamannya ke negara lain yang malah membuat negara-negara tersebut kesulitan untuk membayar utang.

Meski demikian kritik tersebut tentu saja ditolak oleh China. Bahkan di sisi lain, Negeri Tirai Bambu itu menuduh beberapa orang di Barat mempromosikan narasi ini untuk menodai citranya.

Melansir dari BBC, pemerintah China mengatakan bahwa tidak ada satu negara pun yang jatuh ke dalam apa yang disebut 'jebakan utang' sebagai akibat dari pinjaman dari China.

Perlu diketahui bahwa China adalah salah satu negara kreditur tunggal terbesar di dunia. Negara ini telah mencapai $ 170 miliar (Rp 2.550 triliun) pada akhir 2020 ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Jumlah ini telah meningkat tiga kali lipat selama dekade terakhir.

Namun jumlah pinjaman yang diberikan China secara keseluruhan kemungkinan akan jauh lebih besar daripada yang ditunjukkan oleh angka-angka ini.

Berdasarkan hasil penelitian oleh AidData, ditemukan bahwa setengah dari pinjaman China ke negara-negara berkembang tidak dilaporkan dalam statistik utang resmi negara. Sebab sebagian besar utang yang diberikan China ini berasal dari perusahaan milik negara dan bank, usaha patungan atau lembaga swasta, daripada langsung dari pemerintah ke pemerintah.

Menurut AidData, sekarang ini ada lebih dari 40 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang eksposur utangnya kepada China lebih dari 10% dari ukuran output ekonomi tahunan (PDB) mereka sebagai akibat dari "utang tersembunyi" ini.

Djibouti, Laos, Zambia, dan Kirgistan memiliki utang ke China yang setara dengan setidaknya 20% dari PDB tahunan mereka.

Adapun sebagian besar utang ke China terkait dengan proyek infrastruktur besar seperti jalan, kereta api dan pelabuhan, dan juga industri pertambangan dan energi, di bawah Inisiatif Sabuk dan Jalan Presiden Xi Jinping.

Lantas apa yang terjadi bila negara-negara ini gagal membayar hutang kepada China?

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Richard Moore, kepala badan intelijen luar negeri Inggris MI6, mengatakan China menggunakan apa yang disebutnya "jebakan utang" untuk mendapatkan pengaruh atas negara lain.

Menurut Moore, China meminjamkan uang ke negara lain, yang pada akhirnya harus menyerahkan kendali atas aset-aset utama jika mereka tidak dapat memenuhi pembayaran utang mereka.

Tidak sedikit negara yang sempat jatuh dalam "jebakan" utang China ini. Sebagai contoh, berdasarkan catatan detikcom, berikut sejumlah negara yang pernah kehilangan asetnya karena "jebakan" utang China:

1. Sri Lanka

Dalam catatan detikcom, Sri Lanka kehilangan pelabuhan dan bandara miliknya dikelola China. Infrastruktur itu diketahui mendapat pembiayaan dari China melalui bantuan utang sebesar US$ 1,5 miliar yang diberikan pada 2010.

Namun, karena gagal bayar utang ke China, pada 2017 Sri Lanka harus merelakan asetnya tersebut ke China. Keputusan tersebut dilakukan dengan menandatangani kontrak untuk melayani perusahaan milik negara China selama 99 tahun.

Kala itu Sri Lanka tercatat memiliki utang sebesar US$ 8 miliar kepada China. Bila dihitung, untuk membayar utang luar negeri kepada China dan negara lain akan menghabiskan 94% dari produk domestik bruto (PDB) Sri Lanka.

2. Zimbabwe

Peneliti di Institute dor Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman pernah mengatakan bagaimana sebuah negara yang mengalami gagal bayar utang. Dalam penjelasannya pada 2018 lalu salah satunya Zimbabwe.

"Jadi ada bad story dan success story. Yang bad story itu Angola, Zimbabwe, Nigeria, Pakistan dan Sri Lanka," katanya, 21 Maret 2018.

Seperti diketahui, sejak 1998, Zimbabwe mengirim pasukan dan membeli peralatan dari China untuk membantu Presiden Laurent Kabali melawan pemberontak Uganda dan Rwanda.

Untuk membiayai semua aktivitas tersebut, Zimbabwe harus berutang kepada China dengan akumulasi nilai hingga mencapai US$ 4 juta atau Rp 54,8 miliar (kurs Rp 13.700 kala itu).

3. Nigeria

Kegagalan atau bangkrut juga dirasakan Nigeria di mana model pembiayaan melalui utang yang disertai perjanjian merugikan negara penerima pinjaman dalam jangka panjang. China mensyaratkan penggunaan bahan baku dan buruh kasar asal China untuk pembangunan infrastruktur di Nigeria.

"Mereka membangun proyek infrastrukturnya lewat utang, akhirnya mereka tidak bisa bayar utang. Banyak beberapa negara, di antaranya Angola mengganti nilai mata uangnya. Zimbabwe juga," ujar dia.

4. Uganda

Kemudian, yang terbaru dialami oleh Uganda. Negara di Afrika Timur itu dikabarkan gagal bayar utang ke China terkait pengembangan Bandara Internasional Entebbe, Uganda. Akibatnya, aset tersebut diambil alih oleh China.

Dikutip dari Economic Times, Senin (29/11/2021), Pemerintah Uganda diketahui mendapatkan pinjaman dari Bank Exim China sebanyak US$ 207 juta untuk memperluas Bandara Internasional Entebbe.

Pinjaman tersebut memiliki jangka waktu 20 tahun termasuk masa tenggang tujuh tahun. Pembayaran utang itu tersendat karena kabarnya pihak bandara tengah krisis.

Namun Pemerintah Uganda pun menepis bahwa aset Bandara Internasional Entebbe diambil oleh China. Hal ini diterangkan oleh Juru Bicara Otoritas Penerbangan Sipil Uganda, Vianney Luggya.

"Tidak benar bahwa Uganda akan kehilangan Bandara Internasional Entebbe dengan cara apa pun. Ini bukan pertama kalinya tuduhan itu muncul. Uganda tidak akan gagal dalam memenuhi kewajiban pinjaman. Kami masih dalam masa tenggang tujuh tahun dan selama periode itu kami telah membayar bunga, " tegas Luggya, dikutip dari VOA News.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT