ADVERTISEMENT

IMF Sarankan Sri Lanka 'Sowan' ke China Minta Keringanan Utang

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 27 Jul 2022 22:44 WIB
Army soldiers remove tents from the site of a protest camp outside the Presidential Secretariat in Colombo, Sri Lanka, Friday, July 22, 2022. (AP Photo/Rafiq Maqbool)
Foto: Dinuka Liyanawatte/Reuters
Jakarta -

IMF (International Monetary Fund) meminta pembicaraan mendalam soal restrukturisasi utang antara Sri Lanka dan China. Sri Lanka berutang ke China sebesar US$ 6,5 miliar atau sekitar Rp 97,5 triliun (kurs Rp 15.000).

"China adalah kreditur besar, dan Sri Lanka harus terlibat secara proaktif dengannya dalam restrukturisasi utang," kata Krishna Srinivasan direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF, dilansir dari Reuters, Rabu (27/7/2022).

Utang Sri Lanka ke China sebesar Rp 97,5 triliun itu terdiri dari pembiayaan pinjaman bank pembangunan dan pertukaran bank sentral. Dana tersebut juga untuk proyek-proyek seperti jalan raya, pelabuhan, bandara, dan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Hal itu berdasarkan data dari Institute of International Finance (IFF). Selain China, Jepang dan India juga merupakan kreditur bilateral untuk Sri Lanka.

"Sri Lanka harus terlibat dengan krediturnya, baik swasta maupun bilateral resmi untuk memastikan keberlanjutan utang dipulihkan," kata Srinivasan.

Srinivasan juga mengatakan saat ini pembicaraan teknis tentang program IMF baru sedang berlangsung dengan kedua pejabat dari kementerian keuangan dan bank sentral Sri Lanka.

Di sisi lain, pemerintah Sri Lanka sudah mulai mencari pinjaman pembiayaan dari dana yang berbasis di Washington.

Perdana menteri enam kali Ranil Wickremesinghe baru-baru ini ditunjuk sebagai presiden setelah pemberontakan rakyat menggulingkan pendahulunya menyusul kekurangan bahan bakar, makanan dan obat-obatan selama berbulan-bulan.

(hal/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT