ADVERTISEMENT

Kolom

Nilai Ekonomi Sampah Laut

Sakti Wahyu Trenggono - detikFinance
Minggu, 31 Jul 2022 12:30 WIB
Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono
Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono/Dok. KKP

Sampah ukuran sangat kecil, khususnya berbahan plastik dan logam, bila terus menerus masuk ke tubuh biota laut, maka bisa merusak metabolisme yang dapat mengakibatkan kematian si biota. Beberapa kasus sudah membuktikan hal ini, di antaranya hiu paus yang ditemukan mati dengan perut berisi mikro plastik.

Komoditas perikanan yang sudah terkontaminasi mikro dan nano debris juga dapat membahayakan kesehatan manusia pengonsumsiannya. Mulai dari ancaman penyakit ringan hingga berat.

Di sisi lain, pencemaran sampah juga bisa menyebabkan kerusakan ekosistem terumbu karang, lamun, dan juga mangrove. Padahal ketiganya punya peran besar dalam menyerap kelebihan karbon di atmosfer, dan menjadi habitat beragam biota laut selama ini.

Jadi pencemaran sampah laut ini bukan masalah kecil, karena mampu menimbulkan kerusakan di banyak aspek ekosistem laut.

Dari banyaknya jenis sampah yang ada di lautan, plastik dan logam jumlahnya paling mendominasi. Ironisnya lagi sampah jenis ini baru bisa terurai dalam kurun waktu sangat lama mencapai puluhan bahkan ratusan tahun.

Kondisi di atas menjadikan sampah adalah warisan paling buruk yang diberikan manusia pada generasi penerusnya.

Bulan Cinta Laut
Sebagai pengampu sektor kelautan, KKP terus berimprovisasi melakukan penangangan sampah di laut.

Seperti menyelenggarakan Sekolah Pantai Indonesia, melakukan pengendalian sampah di muara sungai, serta menyusun SOP kegiatan perikanan tangkap dan perikanan budidaya yang ramah lingkungan.

Kemudian KKP membangun sarana dan prasarana penanganan sampah di setiap pelabuhan samudera (PPS) dan nusantara (PPN), sekaligus menerapkan sertifikasi manajemen lingkungan ISO 14000.

Selanjutnya membangun fasilitas Tempat Penampungan Sementara (TPS) atau pusat daur ulang di pulau-pulau kecil terluar, hingga melakukan penelitian pencemaran sampah di laut dan dampaknya.

Memperkuat aksi penanganan yang sudah berjalan itu saya juga menginisiasi program Bulan Cinta Laut (BCL) pada akhir Januari 2022.

Ruang lingkup program ini lebih dari sekadar mengambil sampah yang ada pantai dan laut dalam waktu beberapa jam, seperti yang sudah berjalan setidaknya di sembilan lokasi selama ini.

Program ini kami perkuat dengan keterlibatan para nelayan, di mana akan ada waktu satu bulan dalam setahun untuk nelayan pergi melaut khusus menangkap sampah bukan ikan. Sampah yang dihasilkan kemudian dihargai setara satu kilogram ikan.

Melalui program ini, kami ingin menghadirkan penanganan sampah laut yang menyeluruh dari hulu hingga hilir, dari daratan hingga ke tengah lautan.

Targetnya sampah plastik di laut benar-benar bisa berkurang sampai 70 persen pada tahun 2025 sebagaimana amanat Perpres 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut.

Di sisi lain, pelaksanaan program BCL tidak akan mengganggu penghasilan para nelayan secara signifikan, karena ada nilai ekonomi dari sampah-sampah yang mereka kumpulkan.

Tidak menutup kemungkinan, pelaksanaan BCL melaut menangkap sampah lama kelamaan bertransformasi dari program kerja pemerintah menjadi pesta rakyat yang ditunggu-tunggu kehadirannya.

Jika ini terjadi, sangat mungkin kegiatan ekonomi lainnya bisa ikut hadir.

Implementasi BCL satu bulan menangkap sampah tentu tak semudah membalikkan telapak tangan.

Bagaimana menggugah para nelayan mau terlibat, penyiapan anggaran untuk pembiayaan kompensasi sampah, termasuk apa yang harus dilakukan terhadap sampah-sampah yang sudah terkumpul sehingga tidak kembali mencemari laut melainkan menjadi produk turunan yang punya nilai.

Kami tengah menyusun regulasi sebagai dasar dan acuan pelaksaan program BCL. Sinergi multipihak juga kami galakkan karena peran berbagai elemen sangat penting untuk mendukung keberhasilan program ini.

Jika tak ada kendala, dua tiga bulan lagi, program ini bisa kita luncurkan secara nasional.

Pada forum United Nation Oceans Conference (UNOC) 2022 di Lisbon, Portugal beberapa waktu lalu, ide besar BCL turut saya presentasikan baik ketika menjadi pembicara maupun saat bertemu delegasi negara-negara peserta, utusan lembaga serta organisasi internasional lainnya.

Alhamdulillah, rata-rata mengapresiasi dan siap memberi dukungan karena sama-sama memahami bahwa sampah laut bukan hanya persoalan Indonesia, tapi semua negara-negara di dunia.

Saya percaya, jika semua turun tangan, bahu membahu, maka persoalan sampah yang berat ini akan lebih ringan penyelesaiannya. Dengan demikian, semboyan lautan sebagai sumber kehidupan terus terjaga.

Ditulis oleh
Menteri Kelautan dan Perikanan RI
Sakti Wahyu Trenggono



Simak Video "Menteri Trenggono Minta Nelayan Berhenti Tangkap Ikan, Kumpulkan Sampah Laut"
[Gambas:Video 20detik]

(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT