ADVERTISEMENT

AS Sudah Resesi, RI Ada Potensi Menyusul?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 02 Agu 2022 12:12 WIB
Infografis 15 negara dalam bayang-bayang resesi
Foto: Infografis detikcom/Mindra Purnomo
Jakarta -

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Amerika Serikat secara teknis sudah masuk ke dalam jurang resesi. Hal ini menurutnya terjadi karena gejolak ekonomi global.

Menurutnya rantai pasok ekonomi dunia masih bergejolak karena COVID-19, masalah justru ditambah lagi dengan adanya gejolak geopolitik perang Rusia dan Ukraina. Dua masalah ini membuat kenaikan harga berbagai komoditas dunia, mulai dari pangan hingga energi.

Kenaikan harga komoditas ini berimbas pada harga-harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen. Ujungnya, inflasi pun terjadi dan memperlambat pergerakan ekonomi.

"Kenaikan harga komoditas ini di beberapa negara mendorong inflasi tinggi dan ekonomi jadi melambat. Maka bisa timbul resesi ekonomi," papar Airlangga dalam Mid Year Economic Outlook Bisnis Indonesia, Selasa (2/8/2022).

Nah hal tersebut sudah membuat ekonomi Amerika melemah dan akhirnya resesi. "Di Amerika sudah dua kali negatif, sehingga technically dia masuk inflasi dan stagflasi," sebut Airlangga.

Bagaimana dengan Indonesia, apakah Indonesia akan dibayangi resesi juga? Menurut Airlangga tidak. Dia menyampaikan sejauh ini kemungkinan resesi di Indonesia kecil. Bahkan, dia menyebutkan Indonesia termasuk negara yang mampu ekspansi ekonominya.

"Negara-negara yang masih bisa ekspansi, termasuk Indonesia. Probabilitas resesi Indonesia bersama india presentasenya masih rendah," kata Airlangga.

Berdasarkan data CEIC, kata Airlangga, ekonomi Indonesia masih akan menguat. CEIC membuat indeks berdasarkan indikator utama ekonomi, mulai dari keuangan, moneter, pasar tenaga kerja, perdagangan, hingga industri.

Menurutnya, dari indeks tersebut Indonesia masih berada pada pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Artinya, ekonomi Indonesia masih akan terus menguat dalam beberapa waktu ke depan.

"Berdasarkan leading indikator CEIC, indikator dari keuangan, moneter, pasar tenaga kerja, perdagangan, dan industri di mana angka 100 adalah tren jangka panjang. Indonesia berada di dalam indeks di atas 100," papar Airlangga.

Simak juga Video: Sri Mulyani: Dunia Tidak Baik-baik Saja, Inflasi di Berbagai Negara

[Gambas:Video 20detik]



(hal/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT