ADVERTISEMENT

Menguak Kronologi Kasus Beras Bansos yang Ditimbun di Depok

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 03 Agu 2022 06:30 WIB
Kasus JNE Depok tengah menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, sejumlah karung beras ditemukan dalam timbunan tanah di tanah lapang Tirtajaya, Sukmajaya, Depok.
Foto: Dwi Rahmawati/detikcom
Jakarta -

Perum Bulog buka suara soal kasus beras bantuan sosial berkarung-karung yang ditimbun di Depok dan menghebohkan masyarakat. Beras-beras itu adalah bansos yang diakui disediakan pihak Bulog dan diantarkan oleh pihak ketiga.

Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Awaludin Iqbal menjelaskan pihaknya ditugaskan untuk menyalurkan Bantuan Presiden pada periode Mei-Juni 2020 yang lalu. Bantuan itu ditujukan kepada sekitar 3 juta warga yang terkena dampak pandemi COVID-19.

Saat itu, pihak pengantar yang disebut sebagai pihak ketiga dari PT SSI melakukan pengiriman beras kepada warga penerima beras bantuan Presiden, namun pihaknya mendapatkan laporan dalam perjalanannya ada kendala yang mengakibatkan beras tersebut mengalami kerusakan.

Pada saat itu juga, pihak ketiga sebagai pengantar segera menghubungi Bulog untuk membeli beras pengganti agar segera diantar kepada warga penerima. Perihal beras yang rusak, menurutnya itu semua sudah bukan tanggung jawab Bulog.

"Jadi pihak ketiga sudah menggantinya dengan beras berkualitas baik dan diterima dengan baik juga oleh seluruh warga penerima manfaat. Sedangkan beras yang rusak tersebut menjadi tanggung jawab pihak ketiga, dan bukan lagi menjadi tanggungjawab Bulog," ungkap Iqbal dalam keterangannya, Selasa (2/8/2022).

Pihaknya sengaja bekerja sama dengan pihak ketiga untuk mempercepat pendistribusian beras. Iqbal juga menegaskan dalam setiap pengeluaran beras dari gudang, ada prosedur standar yang harus dilakukan dan tercatat secara pasti guna memastikan proses quality control betul-betul berjalan dengan baik.

Deskripsi pelaksanaan tugas antara Perum Bulog sebagai penyedia beras dan pihak ketiga sebagai pengantar juga sudah jelas beban dan tanggung jawabnya.

"Setiap pengeluaran beras dari gudang ada dokumen serah terima barang yang menyebutkan beras diterima dalam kondisi baik. Selanjutnya penyaluran beras tersebut menjadi tanggung jawab pihak transporter. Memang dalam proses pengangkutan terbuka kemungkinan terjadi gangguan-gangguan cuaca seperti hujan, kemasan pecah dan lainnya," kata Iqbal.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT