ADVERTISEMENT

Erick Bicara Dilema Garuda: Beban Utang Segunung, Isi Pesawat Harus Full

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 03 Agu 2022 14:27 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir menyaksikan penandatanganan dokumen operasional komersial Bandara Kualanamu oleh AP II dan APA di Sarinah
Foto: Dok. Kementerian BUMN
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir kembali berbicara mengenai kondisi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Menurutnya proses bisnis di Garuda Indonesia memang perlu dirombak.

Kondisi Garuda Indonesia sendiri babak belur akibat menanggung utang yang sudah begitu besar. Sementara kondisinya diperparah dengan keadaan guncangan ekonomi akibat pandemi.

Menurut Erick, untuk mengejar ketertinggalan setidaknya setiap pesawat Garuda harus terisi 120% dari kapasitas tempat duduk. Hal itu tentu tidak mungkin dilakukan.

"Ketika harga tiket pesawatnya mahal, Garudanya nggak bisa, karena tidak bisa di-manage baik, harus masuk PKPU. Ya bagaimana, ngisi pesawat harus terisi 120%, harus duduk di sayap? Kan nggak mungkin," paparnya di Tennis Indoor Senayan Jakarta, Rabu (3/8/2022).

Erick juga mengakui biaya sewa pesawat Garuda Indonesia terlampau tinggi, bahkan jauh lebih tinggi dari rata-rata biaya sewa pesawat di dunia. Oleh karena itu proses bisnis Garuda memang perlu dirombak.

"Harga leasing 28%, rata-rata dunia 5%, artinya proses bisnis yang salah yang harus dikoreksi dan harus dilakukan. Bukan karena suka dan tidak suka," ucapnya.

Ia mengatakan itu merupakan salah satu dari program bersih-bersih BUMN. Tujuannya bukan untuk menyakiti siapapun, tapi untuk memastikan proses bisnis terus berjalan.

Jika itu tidak dilakukan, maka BUMN yang merupakan sepertiga ekonomi Indonesia tidak bisa melakukan intervensi pada pasar.



Simak Video "Wanti-wanti Erick Thohir soal Pengadaan Pesawat Garuda"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT