Indonesia Perlu Waspadai Relokasi Pabrik Sepatu China

Indonesia Perlu Waspadai Relokasi Pabrik Sepatu China

- detikFinance
Kamis, 22 Jun 2006 16:47 WIB
Jakarta - Indonesia diminta mewaspadai aksi relokasi pabrik sepatu dari China yang mengalihkan usahanya ke Indonesia, akibat produk sepatu China dikenai anti dumping oleh Uni Eropa.Pengenaan anti dumping China seharusnya menjadi kesempatan bagi industri sepatu dalam negeri untuk merebut peluang yang dimiliki perusahaan China di Eropa. Sehingga industri dalam negeri lebih bergairah."Bukannya masalah perusahaan China merelokasi pabriknya kesini demi menghindari pengenaan anti dumping," kata konsultan kulit internasional, Peter Kern.Hal itu disampaikan Peter, saat melakukan presentasi di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (22/6/2006). Presentasi ini menyambut pameran dagang internasional untuk sepatu, tas dan barang-barang kulit lainnya yaag akan dilangsungkan di Jerman 15-17 September 2006.Peter menjelaskan, saat ini industri sepatu di Eropa sedang sekarat. Buntutnya, China dikenai anti dumping karena karena dinilai melakukan subsidi sehingga sepatunya lebih murah dibanding Eropa."Ini sebenarnya kesempatan yang baik untuk Indonesia," ungkap Peter. Apalagi Indonesia mampu memproduksi 600 juta pasang sepatu per tahun, yang menunjukkan adanya kemampuan, meskipun kalah strategi dan pengembangan.Indonesia juga dinilai terlalu mementingkan pembuatan sepatu olah raga yang branded, dibandingkan sepatu kulit. Padahal dengan kualitas kulit yang ada, Indonesia bisa mengembangkan merek sendiri.Sementara Ketua Asosiasi Perusahaan Sepatu Indonesia (Aprisindo) Jawa Timur, Sutan Siregar, membantah penilaian relokasi pabrik sepatu China akan menjadi musuh dalam selimut.Menurut Sutan, perusahaan China yang masuk ke Indonesia harus berbentuk join venture, karena produksinya untuk lokal dan ekspor. "Jadi mereka bukan musuh dalam selimut kita bawa ke arah positif, kita mau kembalikan era kejayaan industri sepatu tahun 1990-2000," katanya.Ekspor sepatu Indonesia 2006 ditargetkan naik dua kali lipat menjadi US$ 7 miliar, dibanding 2005 yang sebesar US$ 3 miliar. Dengan tujuan utama ekspor ke AS, Inggris, Jerman dan Belanda. Pangsa pasar sepatu Indonesia di dunia mencapai 15 persen.Sutan juga mengingatkan, untuk menghindari transshipment sebaiknya surat keterangan asal (SKA) keluar dari satu pintu yakni dinas perindustrian. Bukan seperti selama ini beberapa instansi mengeluarkan SKA untuk tujuan ekspor."Seharusnya dinas yang bisa mengeluarkan SKA adalah yang memiliki sentra produksi alas kaki, yakni Banten, Jabar, Yogya, Jateng, Jatim dan Sumut," kata Sutan. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads