ADVERTISEMENT

Bukan Indomie, Ini Dia Mi Instan Pertama yang Ada di RI

Almadinah Putri Brilian - detikFinance
Kamis, 11 Agu 2022 07:30 WIB
Serangan Rusia ke Ukraina Dapat Menaikan Harga Mi Instan di Seluruh Dunia, Termasuk Indonesia
Mi Instan Pertama di RI/Foto: ABC Australia
Jakarta -

Indomie merupakan salah satu merek mi instan yang sangat populer. Saking populernya, masyarakat Indonesia seringkali menyebut Indomie sebagai kata ganti mi instan.

Tapi tahukah kalian kalau mi instan pertama yang ada di Indonesia bukan Indomie? Ya, ternyata mi instan pertama di Indonesia adalah Supermi! Dikutip dari situs resminya (10/8/2022), Supermi pertama kali muncul pada tahun 1968 dan merupakan pionir mi instan di Indonesia.

Pada tahun 1976, Supermi mengeluarkan varian Rasa Kaldu Ayam dan menjadi salah satu produk favorit keluarga Indonesia. Pada tahun 1986, PT Supermi Indonesia diakuisisi oleh PT. Indofood Interna Corporation yang sekarang menjadi PT. Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk.

Hingga kini, Supermi terus mengeluarkan banyak varian rasa yang dapat dinikmati oleh keluarga Indonesia.

Sementara itu, Indomie pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1972 dengan varian Rasa Kaldu Ayam. Pada Tahun 1982, Indomie mengeluarkan varian baru yaitu Mi Goreng.

Lalu, mulai tahun 1998 Indomie melakukan ekspor ke berbagai negara hingga pada tahun 2021, Indomie menjadi mi instan terbaik versi New York Magazine.

Selain Supermi dan Indomie, terdapat beberapa produk mi instan lainnya yang diproduksi oleh PT Indofood Sukses Makmur, yaitu Sarimi, Pop Mie, Sakura, dan Mie Telur Cap 3 Ayam.

Orang di Balik Mi Instan Pertama di Indonesia

Adalah Sudono Salim, alias Om Liem yang memproduksi mi instan pertama tersebut di Indonesia lewat perusahaannya PT Indofood Sukses Makmur Tbk. Om Liem lahir di Fuqing sebuah desa kecil di wilayah Fujian, China bagian selatan pada 16 Juli 1916. Ia lahir dengan nama Lim Sioe Liong.

Ia adalah anak kedua dari seorang petani. Di masa kecilnya, ia hidup dengan sangat kekurangan. Ia juga terpaksa putus sekolah pada usia 15 tahun dan berjualan mie di sekitar tempat tinggalnya.

Kemiskinan itulah yang mendorongnya hijrah ke Indonesia, mengikuti jejak sang kakak yang sudah terlebih dahulu tiba di Tanah Air. Om Liem tiba di Indonesia pada tahun 1939, ketika dimulainya Perang Dunia II.

Hal yang pertama kali dilakukan Om Liem di Indonesia adalah mencari uang. Ia mulai bekerja sebagai supplier cengkeh untuk perusahaan-perusahaan rokok di Kudus dan Semarang, Jawa Tengah. Cengkeh menjadi salah satu bisnis yang menunjang kerajaan bisnisnya di masa mendatang, selain bisnis tekstil tentunya.

Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, Om Liem juga pernah berbisnis di dunia perbankan dengan mendirikan Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia (BCA).

Om Liem bersama tiga rekan bisnisnya yakni Djuhar Sutanto, Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad (belakangan dikenal sebagai The Gangs of Four) membangun sebuah perusahaan tepung terigu terbesar di Indonesia yaitu, PT Bogasari. Kala itu, PT Bogasari menguasai 2/3 pasar terigu Indonesia.

Namun, Om Liem juga pernah mengalami kejatuhan dalam bisnisnya. Pada tahun 1997, di mana krisis moneter melanda Indonesia, kerajaan bisnisnya sempat goyah karena memiliki utang yang cukup besar, yang dilaporkan mencapai Rp 52 triliun.

Untuk menutupi utangnya, Om Liem terpaksa melepas beberapa perusahaannya seperti PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA, dan PT Indomobil Sukses Internasional.

Namun, Om Liem tak mau berlama-lama terpuruk. Ia berusaha bangkit melalui perusahaan yang masih dimilikinya, yakni PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang menghasilkan produk Indomie yang dikenal sampai di kancah dunia.

Simak juga video 'Krisis Gandum Bikin Harga Mie Instan Naik, Apa Antisipasi Indonesia?':

[Gambas:Video 20detik]



(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT