ADVERTISEMENT

Gara-gara Ini, Hasi Panen Petani Bisa Naik Hingga 40%

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 10 Agu 2022 18:29 WIB
Hamparan sawah.  
dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: dikhy sasra
Jakarta -

Pandawa Agri Indonesia (PAI), perusahaan agrikultur yang menciptakan inovasi reduktan pestisida mengembangkan ekosistem pertanian end-to-end yang berkelanjutan di Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Inisiatif Pengembangan Ekosistem Beras Natural Mbay ini merupakan satu di antara beberapa inisiasi lainnya yang dikembangkan oleh PAI bagi petani swadaya di Indonesia.

Berdasarkan Laporan Dampak yang dirilis pada Rabu (10/8), tercatat sejumlah dampak positif yang dihasilkan dari inisiatif tersebut, termasuk di antaranya peningkatan produktivitas hasil panen hingga 40 persen, peningkatan pendapatan petani, dan kesuburan tanah yang berangsur meningkat.

Chief Executive Officer (CEO) dan Co-founder PAI, Kukuh Roxa mengatakan bahwa pihaknya selalu berusaha untuk menghasilkan produk dan layanan yang dapat membantu mewujudkan visi perusahaan untuk menciptakan pertanian yang berkelanjutan.

"Kami melihat pengembangan ekosistem smallholders ini merupakan cara yang efektif dan efisien dalam mentransformasi sistem produksi pangan menjadi lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan," ujar Kukuh dalam acara Setahun Berkolaborasi dengan Petani Swadaya Nagakeo, Rabu (9/8).

Perusahaan yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi ini didirikan pada tahun 2014 dan memulai inovasinya dengan menciptakan produk reduktan pestisida. Produk ini dapat digunakan oleh petani untuk mengurangi dosis pestisida demi menghalau serangan hama pada tanaman.

Di tahun 2021 lalu, PAI mulai mengembangkan ekosistem bagi petani swadaya dengan turut menghadirkan teknologi PPAI (Pendampingan Pandawa Agri Indonesia) untuk mendukung inisiatif tersebut. Teknologi PPAI secara khusus dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pertanian di wilayah geografis dan untuk komoditas tertentu.

"Kami berharap inisiasi ini dapat mengurangi residu input sintetis secara bertahap, sehingga dapat turut memperbaiki kualitas lingkungan pertanian di Nagekeo. Selain itu, Kami berharap teknologi PPAI dapat mendukung para petani di Mbay untuk mencapai potensi maksimalnya serta meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan petani," imbuh Kukuh.

Pada Pengembangan Ekosistem Beras Natural Mbay di Nusa Tenggara Timur, teknologi PPAI yang diterapkan meliputi Tujuh Intervensi berupa benih bersertifikat, pupuk mikro lengkap, mikoriza, pupuk silika, mikroba pengurai jerami untuk meningkatkan unsur organik dalam tanah, serta reduktan herbisida dan insektisida.

Bupati Nagekeo Johanes Don Bosco Do ikut mengapresiasi dampak positif yang telah diberikan oleh PAI. Sebab, Mbay memiliki potensi yang besar untuk dapat menjadi lumbung padi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Kami memiliki 5.000 hektar sawah, dan beras asal Mbay sudah terkenal unggul sejak dulu. Namun, beberapa tahun terakhir ini produktivitasnya cenderung stagnan dan kian menurun," ungkap Johanes.

Menurutnya, pendampingan yang dilakukan PAI ini terbukti mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen, sehingga pendapatan petani meningkat dan pasokan pangan di daerah tetap terjaga.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT