ADVERTISEMENT

China-Taiwan Tegang, Sri Mulyani Makin Resah

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 11 Agu 2022 16:36 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan risiko perekonomian bergeser dari pandemi COVID-19 ke tekanan ekonomi global. Perang di Rusia dan Ukraina serta tegangnya China dan Taiwan menjadi ancaman baru bagi perekonomian global termasuk Indonesia.

"Terjadinya ketegangan bahkan sampai perang yang terjadi di Ukraina dan sekarang ketegangan juga melonjak tinggi di Taiwan, ini pasti akan menimbulkan tambahan risiko pada disrupsi sisi supply," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA, Kamis (11/8/2022).

Sri Mulyani menjelaskan pasca pandemi COVID-19 situasi tidak baik-baik saja, terjadi disrupsi sisi supply alias produk-produk dan distribusi barang tidak berjalan lancar. Hal ini yang menyebabkan pada saat mobilitas masyarakat mulai tinggi terhadap permintaan barang dan jasa, permintaan itu tidak bisa dipenuhi oleh sisi produksinya.

"Karena sesudah 2 tahun terkena pandemi ternyata normalisasi produksi tidak begitu saja mudah terjadi. Dengan adanya disrupsi sisi suplai akibat pandemi dan dengan sekarang masalah perang, sementara demand side meningkat, terjadilah inflasi global yang melonjak sangat tinggi," jelas Sri Mulyani.

Dengan inflasi yang melonjak sangat tinggi, berbagai negara melakukan respons kebijakan moneter melalui pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga. Tindakan ini menimbulkan efek rembetan ke berbagai negara, sehingga volatilitas pasar keuangan melonjak.

"Capital outflow terjadi di negara berkembang dan negara-negara emerging dan ini menekan nilai tukar rupiah dan meningkatkan cost of fund atau lonjakan biaya utang," ujarnya.

Sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) telah menyampaikan bahwa ada lebih dari 60 negara yang berpotensi mengalami krisis utang yang disebabkan biaya utang melonjak. Kombinasi pelemahan ekonomi dunia dan inflasi yang tinggi, kata Sri Mulyani, merupakan kombinasi berbahaya.

"Kondisi pelemahan di sisi keuangan berbagai negara dengan inflasi yang tinggi, pengetatan suku bunga, tentu akan memperlemah kondisi pertumbuhan ekonomi dunia. Kombinasi pelemahan ekonomi dunia dan inflasi yang masih tinggi adalah kombinasi yang sangat rumit dan berbahaya bagi para policy maker dan perekonomian," tuturnya.



Simak Video "Jokowi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tembus 5,4%-6%"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT