ADVERTISEMENT

Setoran Perpajakan Tahun Depan Rp 2.000 T, Pertama dalam Sejarah!

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 16 Agu 2022 22:55 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah) bersama Ketua Banggar DPR MH Said Abdullah (kedua kanan) beserta para Wakil Ketua Muhidin Mohamad Said (kedua kiri) dan Edhie Baskoro Yudoyono (kanan)dan anggota Eko Hendro Purnomo melambaikan tangan saat penandatanganan persetujuan RUU APBN 2022 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/9/2020). Dalam rapat tersebut Badan Anggaran DPR menyetujui pembahasan RUU APBN 2022 untuk dilanjutkan ke pembicaraan tingkat II. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.
Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN: Menkeu Sri Mulyani Indrawati
Jakarta -

Penerimaan perpajakan pada 2023 ditargetkan mencapai Rp 2.016,9 triliun atau naik 4,8%. Jika terwujud, hal ini menjadi rekor bagi Indonesia yang mencatatkan penerimaan perpajakan Rp 2 ribu triliun.

Sebagai informasi penerimaan perpajakan meliputi pajak serta bea dan cukai.

"Perpajakan mencapai Rp 2.016. Ini pertama kali dalam history, sejarah Indonesia menembus angka 2 ribu triliun," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RUU APBN 2023 di Jakarta.

Target ini naik dari tahun 2022 yang hanya Rp 1.924,9 triliun. Adapun estimasi ini dilihat dari angka penerimaan pajak yang mengalami windfall dari komoditas selama dua tahun terakhir.

Tahun 2021 windfall dari komoditas mencapai Rp 117 triliun. Tahun 2022, jumlahnya semakin tinggi menjadi Rp 279 triliun karena terdapat program pengungkapan sukarela (PPS) yang menghasilkan Rp 61 triliun.

Adapun penerimaan pajak diproyeksikan tumbuh 6,7% menjadi Rp 1.715 triliun. Hal ini mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi dan kebijakan yang tidak berubah.

Sementara itu, penerimaan Kepabeanan dan Cukai mencapai Rp 301,8 triliun, atau turun 4,7%. Penurunan ini terutama untuk bea keluar yang lebih rendah sejalan dengan moderasi harga komoditas.

Target ini lebih rendah dari tahun 2022. Tahun ini komoditas menyumbang hampir Rp 50 triliun. Tahun depan komoditas diprediksi hanya memberi Rp 9 triliun.

"Nah tahun depan, komoditas hanya memberikan sumbangan bea dan cukai sebesar Rp 9 triliun. Ini turun hampir 40%. Makanya dari bea dan cukai lebih rendah dari tahun ini" pungkasnya.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT