Transaksi Saham Cemex Bisa Batal
Senin, 26 Jun 2006 19:09 WIB
Jakarta - Closing transaksi penjualan 24,9 persen saham PT Semen Gresik Tbk milik Cemex Asia Holdings Ltd kepada Grup Rajawali terancam batal. Soalnya hingga kini ada syarat dalam penutupan transaksi belum dapat dipenuhi.Sementara tenggat waktu yang ditetapkan sebagai batas waktu pembelian adalah pada tanggal 3 Juli nanti. Jika trasaksi itu batal maka akan berimbas pada pencabutan tuntutan arbitrase internasional terhadap pemerintah Indonesia menjadi hilang.Managing Director Rajawali Grup, Darjoto Setiawan kepada detikcom, Senin (26/6/2006) menyatakan, ada 4 syarat untuk penutupan transaksi itu. Pertama, surat persetujuan pemerintah atas transaksi jual beli. Kedua, perjanjian pencabutan arbitrase Cemex dan pemerintah.Ketiga perjanjian pengakhiran CSPA pemerintah dan Cemex dan terakhir perjanjian antara pemerintah dan Rajawali.Namun Darjoto tetap optimistis bahwa tiga pihak yang terlibat yaitu Cemex, pemerintah RI dan Rajawali Group bakal bertemu untuk kepentingan nasional dan Semen Gresik sendiri. "Saat ini lawyer-lawyer dari pemerintah, Cemex dan Rajawali sedang menyiapkan perjanjian untuk penutupan transaksi itu," katanya.Kata Darjoto, jika transaksi itu gagal ditutup tepat waktu, maka penjualan saham Semen Gresik itu menjadi batal, sehingga proses arbitrase yang diharapkan Rajawali dapat dicabut akan berlanjut karena sidang berikutnya dijadwalkan pada pekan kedua bulan depan di New York. "Yang saya khawatirkan adalah masalah waktu. Harus bisa diselesaikan segera," ujarnya.Rajawali sebenarnya sudah siap melakukan eksekusi transaksi jual beli dengan Cemex, tetapi harus mendapat persetujuan dari pemerintah Indonesia yang merupakan pemegang saham mayoritas yakni 51 persen di Semen Gresik. Ia mengatakan, Rajawali sudah mengirim surat ke Menteri Negara BUMN Sugiharto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan tembusan presiden dan wakil presiden, untuk meminta persetujuan itu. Namun sampai saat ini belum ada jawaban resmi dari pemerintah. "Hingga kini kita belum mendapat respon resmi dari Pemerintah. Padahal persetujuan dari pemerintah ini penting, karena akan memberi kepastian terjadinya transaksi jual beli," ujarnya.Darjoto mengungkapkan, pihaknya juga mengharapkan kalau bisa bertemu dengan Menteri BUMN dan Menteri Keuangan untuk membahas coal Cemex termasuk masalah arbritase internasional. Ia mengatakan, bila selesai membahas transaksi jual beli tersebut pihak Rajawali terbuka dan kooperatif untuk membahas kemungkinan adanya keinginan beberapa pemerintah daerah menyangkut kepemilikan saham Semen Gresik tersebut. "Apabila daerah ingin juga mendapatkannya kita bisa berdiskusi. Namun, saat ini yang penting kita bisa menutup dulu transaksi jual beli dengan Cemex, yang memerlukan persetujuan pemerintah," tegasnya.
(mar/)











































