Tahun Ajaran Baru, Industri Garmen Berharap Panen Rezeki
Selasa, 27 Jun 2006 15:09 WIB
Jakarta -
Memasuki tahun ajaran baru, industri garmen dalam negeri berharap bisa menangguk untung. Sementara pemerintah akan memperketat pengawasan di pelabuhan untuk menghadang maraknya garmen selundupan, khususnya asal Cina.Demikian disampaikan Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Depperin Anshari Bukhari saat ditemui wartawan di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (27/6/2006).Sementara berdasarkan pantauan detikcom, sejumlah pedagang di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengaku penjualan seragam sekolah sudah melonjak sejak April lalu. Setiap toko mengaku sudah berhasil menjual ribuan kodi.Anshari menjelaskan, industri garmen sempat mengeluhkan sepinya order pada Lebaran dan Tahun Baru lalu karena maraknya serbuan impor garmen ilegal yang sebagian besar dari Cina.Namun menurut Anshari, pada tahun ajaran sekolah kali ini, industri garmen tak lagi mengeluh. Bahkan menurut Anshari, produksinya melebihi kapasitas, sehingga order harus dipenuhi dari outsourcing.Ia menambahkan, pertumbuhan industri garmen pada tahun 2005 sempat minus. Namun pada tahun 2006 diharapkan naik 7-8 persen."Untuk proteksi industri dalam negeri kita bantu dengan adanya tarif bea masuk garmen, jalur merah, verifikasi teknik dan pengetatan pengawasn di pelabuhan. Karena sejak kenaikan harga BBM, pasar garmen dalam negeri lesu yang pasarnya diisi oleh garmen selundupan," urai Anshari.Berdasarkan data, total pertumbuhan penjualan garmen pada tahun 2005 mencapai US$ 9 miliar. Dari jumlah tersebut, 70 persen ditujukan untuk ekspor, sisanya untuk pasar dalam negeri.Kenapa sampai Cina dicurigai melakukan penyelundupan? Anshari menjelaskan, berdasarkan data BPS, impor tekstil garmen mencapai US$ 200 juta pada tahun 2005. Sedangkan BPS Cina mencatat ekspor Cina ke Indonesia mencapai US$ 700 juta. "Berarti ada selisih US$ 500 juta. Bisa saja itu karena angka impor ilegal," tegasnya.Rencananya, Indonesia-Cina akan menggelar pertemuan bilateral pada Agustus mendatang untuk mengecek angka ekspor impor ini.
(qom/)










































