Larang Ekspor Bahan Mentah, Jokowi Klaim China-Eropa Antre Investasi di RI

ADVERTISEMENT

Larang Ekspor Bahan Mentah, Jokowi Klaim China-Eropa Antre Investasi di RI

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 23 Agu 2022 14:56 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) geram karena APBN hingga APBD terus-terusan dipakai untuk beli barang-barang impor. Jokowi pun mewajibkan uang-uang rakyat itu harus dipakai untuk membeli produk-produk dalam negeri.
Foto: Tangkapan Layar Youtube Sekretariat Presiden
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan hasil positif dari larangan ekspor bahan mentah yang dilakukan Indonesia. Ia mengklaim banyak negara yang ante investasi di Indonesia setelah kebijakan ini diterapkan.

"Indonesia ini, tanya pak ketua KADIN, berbondong-bondong harian orang datang ingin investasi. Entah dari Korea, Jepang, RRT (China), Eropa karena takut semuanya, bahwa ekspor raw material (bahan mentah) akan kita hentikan," ujar Jokowi dalam acara KADIN di Anjungan Riau TMII, Jakarta Timur, Selasa (23/8/2022).

Menurutnya tidak ada pilihan bagi negara-negara tersebut selain membuat pabrik industri di Indonesia. Terkait hal ini, ia mendorong anggota KADIN untuk bekerja sama dengan investor.

"Nih saya (KADIN) punya izin tambang sekian juta ton atau sekian hektar. Join dengan mereka karena kita butuh teknologi, kita juga butuh investasi agar ada capital inflow," sambungnya.

Dia turut menyinggung kebijakan Indonesia melarang ekspor nikel dalam bentuk bahan mentah. Menurutnya ada lonjakan nilai ekspor yang berhasil didapatkan.

Jokowi mengatakan, 7 tahun lalu nilai ekspor nikel Indonesia mencapai US$ 1 miliar, atau sekitar Rp 16 triliun. Tahun 2021, nilai ekspor dari nikel Indonesia mencapai US$ 20,8 miliar atau sekitar Rp 300 triliun.

"Dari Rp 16 triliun melompat jadi Rp 300 triliun lebih. Rp 306 triliun ini semua yang harus kita sadar, tidak bisa berpuluh-puluh tahun ekspor bahan mentah. Jangan kaget saya stop bauksit, tembaga, jangan kaget saya stop yang biasa kita ekspor raw material," imbuhnya.

Selain itu, dari larangan ekspor bahan mentah, Jokowi menargetkan surplus dagang Indonesia dengan China menjadi surplus. Neraca dagang Indonesia dengan China memang masih defisit dalam beberapa tahun terakhir.

Tahun 2012 Indonesia mencatatkan minus US$ 12 miliar. Tahun 2021 angka defisitnya turun menjadi US$ 2,4 miliar.

"2021 Karena kita sudah ekspor besi baja, defisit kita menjadi US$ 2,4 miliar. Tahun ini saya pastikan dengan RRT surplus. Ini tolong ditarik ke bahan-bahan mentah lainnya, jangan hanya nikel," pungkasnya.



Simak Video "Langkah Ganjar Gaet Investor: Babat Habis Pungli-Mudahkan Perizinan"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT