ADVERTISEMENT

Suku Bunga Sudah Naik, BBM Siap Menyusul, Wong Cilik yang Sabar Ya...

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 24 Agu 2022 13:12 WIB
Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Tol Sidoarjo 54.612.48, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (11/4/2022). Pemerintah menetapkan Pertalite sebagai jenis BBM khusus penugasan yang dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan Biosolar Rp5.510 per liter, sementara jenis Pertamax harganya disesuaikan untuk menjaga daya beli masyarakat yakni menjadi Rp 12.500 per liter dimana Pertamina masih menanggung selisih Rp3.500 dari harga keekonomiannya sebesar Rp16.000 per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.
Suku Bunga Sudah Naik, BBM Siap Menyusul, Wong Cilik yang Sabar Ya... Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) kemarin menaikkan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) menjadi 3,75% dari sebelumnya 3,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2022.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan langkah bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi risiko peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan inflasi volatile food, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah pertumbuhan ekonomi domestik yang semakin kuat.

Perry melanjutkan, bank sentral selalu melakukan berdasarkan pertimbangan, mulai dari bagaimana cara mengendalikan inflasi inti dan inflasi ekspektasi agar sejalan dengan sasaran yang ditetapkan pemerintah yaitu 3,5% plus minus 1%.

"Inflasi inti dan inflasi IHK bergerak beriringan. Pengendaliannya sama," kata dia dalam konferensi pers, Selasa (23/8/2022).

BI memprediksi angka inflasi inti akhir tahun ini berada di bawah 4%. Kemudian dengan dampak kenaikan harga BBM non subsidi dan kenaikan inflasi volatile food, maka inflasi akhir tahun ini bisa sedikit lebih tinggi dari 4% yaitu kurang lebih 4,15%.

Lalu untuk inflasi IHK diprediksi mencapai 5,24%. "Ini pertimbangan pertama kenapa kenaikan BI rate sebagai langkah pre-emptive dan ekspektasi inflasi karena dampak dari harga BBM dan volatile food," jelas dia.

Perry menambahkan dalam merumuskan respon kebijakan BI melakukan kalibrasi atau perhitungan yang cermat dan terukur. Jadi tak cuma respon inflasi inti agar kembali ke sasarannya tapi juga pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini bahkan lebih tinggi dari perkiraan BI.

Secara keseluruhan tahun 2022, Perry menyebut pertumbuhan ekonomi bergerak bias ke atas dari perkiraan BI di level 4,5%-5,3%.

Simak video 'Komisi VII Nilai Subsidi BBM Tak Tepat Sasaran: Yang Nikmati Orang Mampu':

[Gambas:Video 20detik]



Harga BBM dikabarkan mau naik. Cek halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT