Catatan Bisnis
Saatnya Pertamina 'Memanusiakan' Motor
Jumat, 30 Jun 2006 10:01 WIB
Jakarta - Antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) bagi pengendara motor agaknya sudah menjadi makanan sehari-hari. Untuk mendapatkan beberapa liter premium (baca-bensin) pengendara motor harus meluangkan waktu paling tidak minimal 10 menit.Jika cuaca teduh mungkin tak terasa antre selama 5 menit. Bagaimana kalau saat terik matahari menyengat atau hujan deras, tentunya situasi yang tidak mengenakan bagi pengendara motor.Naiknya harga BBM pasca pemerintah mengurangi subsidi BBM telah secara signifikan meningkatkan jumlah pengendara motor. Pertumbuhan motor pada tahun 2005 meningkat tajam, pertambahannya sekitar 5 juta unit sepeda motor.Pertumbuhan pasar motor Indonesia meningkat sangat pesat dari tahun 2000 sampai 2004. Pertumbuhannya mencapai 100 persen atau dari sekitar 2 juta unit menjadi 4 juta unit. Dan pada tahun 2006 ini pertumbuhan motor diperkirakan akan tetap meningkat, paling tidak sama seperti tahun sebelumnya.Kondisi seperti ini mengakibatkan jalanan dipenuhi oleh pengendara motor yang mengakibatkan antrean di SPBU juga semakin mengular.Pertamina dengan paradigma barunya, untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat seharusnya lebih jeli membaca pasar. Mereka semestinya sudah harus mulai memikirkan untuk lebih memikirkan memberikan pelayanan yang baik para pengendara motor.Selama ini pengendara motor menjadi konsumen yang diabaikan. "Kita mengisi bensin harus antre dan tidak diperbolehkan mengisi bensin di tempat pengisian mobil. Padahal tempat pengisian mobil itu kosong," kata Rully, warga Depok, kepada detikcom.Makanya, Rully lebih memilih untuk mengisi motornya dengan Pertamax untuk menghindari antrean panjang. Harganya pun tak jauh beda ketika masih Rp 5.300 per liter dibandingkan dengan harga premium subsidi yang sebesar Rp 4.500 per liter.Namun Ketika Pertamax harganya mulai naik sekitar Rp 6.000 dia mulai berpikir untuk mengisi dengan BBM non subsidi itu. "Bedanya lumayan jauh, jadi ya kembali lagi ke premium dengan konsekuensi harus mengantre," ujarnya dengan muka masam.Parahnya lagi ada sejumlah SPBU yang memang meletakkan dispenser Pertamax dan Pertamax Plus di tempat antrean khusus motor. Seperti SPBU di Jalan Minangkabau, Manggarai. Sehingga pengedara motor yang tak ingin antre dengan membeli Pertamax akhirnya diharuskan antre mengular hanya untuk mendapatkan beberapa liter Pertamax.Padahal ketika itu, dispenser Pertamax dan Pertamax Plus tengah kosong, tak ada mobil yang ingin mengisi Pertamax dan Pertamax Plus. "Saya kesal sekali, SPBU ini terlalu kaku. Padahal biarkan saja pengendara motor mengisi di tempat khusus mobil daripada harus antre berlama-lama," ujar Dodo, warga Tebet.Melihat kondisi seperti ini seharusnya Pertamina bisa lebih jeli. Jangan gara-gara masih menjadi penguasa di ritel BBM subsidi malah Pertamina melupakan konsumennya. Pengendara motor adalah konsumen Pertamina yang memberi kontribusi cukup besar.Seharusnya Pertamina mulai mensyaratkan pada pembangunan SPBU baru harus menyediakan dispenser yang lebih banyak bagi pengendara motor. Agar tidak lagi terjadi antrean panjang sehingga membuat suasana yang tak nyaman bagi pengendara motor. Sebab, saat ini kebanyakan di SPBU hanya tersedia 1 dispenser saja bagi pengendara motor.Pada tahun 2006 ini, Pertamina berencana membangun sekitar 400 hingga 500 SPBU di seluruh Indonesia. Paling banyak SPBU itu akan berada di wilayah Jakarta. Semoga saja Pertamina mensyaratkan agar SPBU yang dibangun lebih diperbanyak untuk pengendara motor.Pengendara motor juga manusia!
(qom/)











































