Bertemu Partai Berkuasa di China, Airlangga Bahas Perikanan hingga 5G

ADVERTISEMENT

Bertemu Partai Berkuasa di China, Airlangga Bahas Perikanan hingga 5G

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Rabu, 31 Agu 2022 18:50 WIB
Airlangga Hartarto bersama Minister International Departement PKC Li Mr Liu Jianchao.
Foto: dok. Yudistira Perdana Imandiar/detikcom
Jakarta -

Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menerima kunjungan delegasi Partai Komunis China (PKC) yang dipimpin Minister International Departement PKC Li Mr Liu Jianchao. Pertemuan dilakukan untuk membahas kerja sama Golkar dengan partai yang berkuasa di China tersebut.

Usai pertemuan itu, Airlangga mengungkapkan ada banyak hal yang diperbincangkan dengan delegasi PKC. Salah satunya, yakni soal potensi perdagangan komoditas perikanan dari Indonesia ke China.

Airlangga menuturkan perikanan merupakan sektor yang sangat penting bagi China. Sebab, 60% sumber protein masyarakat di Negeri Tirai Bambu berasal dari perikanan. Hal ini merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan Indonesia sebagai negara dengan hasil perikanan yang besar.

"Protein di Cina itu hampir 60% berasal dari ikan sehingga Indonesia juga yang daerah kepulauan dengan dua pertiga wilayahnya kelautan ini mencair mempunyai potensi yang besar," jelas Airlangga dalam konferensi pers di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Rabu (31/8/2022).

Terkait dengan kerja sama di sektor perikanan, dalam pertemuan itu Airlangga menyampaikan soal kompleks perikanan Tual di Maluku. Fasilitas tersebut merupakan salah satu tempat produksi ikan terbesar di Indonesia.

"Dan tadi juga disampaikan terkait dengan Kompleks perikanan yang ada di Tual yang juga menjadi perhatian," tutur Airlangga.

Hal lain yang dibahas, adalah soal konektivitas 5G. Airlangga menyatakan Indonesia sudah memulai implementasi 5G. Konektivitas generasi kelima itu diandalkan untuk mendukung transformasi digital di Indonesia.

Airlangga menambahkan banyak perusahaan China yang bergerak di bidang semikonduktor dan telekomunikasi. Sehingga, kerja sama dapat dijajaki untuk memperkuat infrastruktur 5G di Tanah Air.

"Yang kedua terkait dengan pengembangan strategis ke depan Bapak Presiden meminta di sektor telekomunikasi dan semikonduktor. Seperti diketahui perusahaan-perusahaan dari China sangat kuat di sektor semikonduktor dan juga telekomunikasi termasuk teknologi 5G, di mana 5G itu merupakan digital infrastruktur daripada transformasi digital dan tentu 5G akan mempercepat transformasi digital," papar Airlangga.

Hal lain yang dibahas adalah soal perkembangan ekonomi kedua negara. Pada pertemuan itu dibahas ihwal Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) Indonesia sampai dengan tahun 2045. Airlangga mengulas Indonesia akan mencapai bonus demografi di 2045, dan hal itu mesti dipersiapkan agar dapat memanfaatkan generasi emas secara optimal.

"Upaya pembangunan Indonesia adalah untuk kesejahteraan dari masyarakat dan juga tentunya akan membuat perekonomian bisa ke depan menjadi perekonomian yang lebih maju lagi tentunya kita membahas beberapa tantangan ke depan seperti terkait dengan ketersediaan pangan kita belajar dari China yang bisa menyediakan pangan untuk 1,4 miliar orang dan Indonesia dengan 270 juta penduduk tentu harus belajar bagaimana meningkatkan produktivitas di sektor pertanian terutama untuk intensifikasi dan productivity," urai Airlangga.

(prf/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT