ADVERTISEMENT

RI Bicara soal Keselamatan Laut di Forum Internasional, Ini Isinya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 01 Sep 2022 18:21 WIB
KM Sabuk Nusantara 85 resmi mendapatkan tambahan rute pelayaran ke wilayah Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, Makasar, senin (6/6). Menjawab surat permintaan Pemda setempat, Kementerian Perhubungan menugaskan PT PELNI untuk memasukan Pangkajene dan Kepulauan ke dalam rute reguler KM Sabuk Nusantara 85. Dengan tambahan ini, wilayah tersebut dilayani oleh dua kapal perintis dan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat.
Foto: dok. Pelni
Jakarta -

Pemerintah Indonesia unjuk gigi di forum keselamatan laut internasional di Singapura. Kementerian Perhubungan yang mewakili RI bicara mengenai komitmen Indonesia dalam menjaga dan mewujudkan keselamatan pelayaran.

"Menyuplik jargon konferensi ini, keselamatan dimulai dari diri sendiri, benar keselamatan dimulai dari kita semua, dimulai dengan kolaborasi yang baik (antar negara)," ujar Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Arif Toha saat berbicara pada Opening Session International Safety@Sea Conference yang digelar oleh Maritime and Port Authority of Singapore (MPA)

Arif mengatakan, dampak signifikan yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19 terhadap aspek keselamatan transportasi laut, khususnya bagi Pelaut yang merupakan faktor kunci kelaiklautan kapal. Menurut Arif, pembatasan dalam proses penggantian kru yang terjadi pada masa Pandemi, menyebabkan Pelaut yang terdampar mengalami kelelahan yang berlebihan.

"Repatriasi atau pergantian awak kapal menjadi prioritas utama bagi Indonesia. Kami (pihak yang berwenang) menerapkan Langkah-langkah yang relevan untuk memungkinkan para Pelaut yang terdampar dapat dipulangkan dan digantikan oleh Pelaut lain. Kami juga memastikan akses Pelaut untuk mendapatkan perawatan medis dan kebutuhan mendesak lainnya," terang Arif.

Arif mengungkapkan, tahun 2021 Indonesia menyediakan 11 (sebelas) Pelabuhan di Indonesia untuk kegiatan repatriasi, yaitu Pelabuhan Belawan, Tanjung Balai Karimun, Batam, Merak, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Makassar, Bitung, Ambon, Benoa, dan Sorong. Jumlah ini, lanjutnya meningkat pada tahun 2022, di mana tahun ini semua Pelabuhan dapat digunakan untuk proses pergantian dan pemulangan awak kapal.

"Sejak Januari 2021 hingga Mei 2022, Indonesia telah membantu proses pergantian dan pemulangan lebih dari 5.600 orang Pelaut," ungkapnya.

Arif menekankan bahwa Indonesia selalu mengikuti peratoran yang ditetapkan dan protokol Kesehatan World Health Organization (WHO) dalam hal pemberian bantuan medis dan penanganan kegiatan pergantian awak kapal, baik bagi awak kapal WNI maupun WNA.

Arif menambahkan, pihaknya juga mengeluarkan beberapa aturan khusus selama Pandemi, antara lain adalah Surat Edaran No. 11 Tahun 2020 tentang Rencana Kontijensi Pelaut dan Pemilik Kapal/Operator Akibat Covid-19 untuk mengatasi isu terkait masa berlaku Dokumen Pelaut. Lebih lanjut, ada juga Surat Edaran No.13 Tahun 2020 tentang Pembatasan Penumpang Pelayanan Kapal, Angkutan, dan Pelabuhan dalam Keadaan Darurat Penaggulangan Bencana Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

"Kami terus mengupdate dan mengkomunikasikan aturan-aturan ini dengan IMO, sehingga masyarakat maritim dapat mengetahui tentang aturan tersebut. Yang terbaru, kami juga mengeluarkan Surat Edaran Nomor 83 Tahun 2022 tentang Pedoman Perjalanan Dalam Negeri Orang Menggunakan Moda Transportasi Laut Selama Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang diterbitkan pada tanggal 26 Agustus ini," jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Arif juga menyoroti bagaimana elemen SDM seperti pasokan awak kapal, pelatihan, Kesehatan dan kesejahteraan menjadi faktor yang paling penting pada masa Pandemi Covid-19.

Arif beranggapan, sejak dulu faktor manusia sudah menjadi faktor yang sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap aspek keselamatan di laut, di mana banyak unsur yang harus dipenuhi dengan baik seperti penyediaan awak kapal yang harus dipastikan tersedia dengan kualifikasi dan pelatihan yang memadai, kesehagan yang baik, serta kondisi mental dan kesejahteraan yang baik. Hal ini menurutnya penting untuk memastikan setiap awak kapal dapat menjalankan tugas dengan maksimal di atas kapal.

Namun demikian, Pandemi Covid-19 memunculkan beberapa tantangan baru yang harus dihadapi, seperti misalnya berkurangnya ketersediaan anggota awak kapal karena terbatasnya lokasi pergantian awak dan pembatasan perjalanan antar negara, terbatanya Pendidikan dan Pelatuhan bagi Pelaut dan awak kapal karena situasi pandemi yang tidak memungkinkan pertemuan fisik sedangkan pengajaran jarak jauh masih belum familiar, serta aturan ketat seperti karantina selama jangka waktu tertentu untuk memastikan awak kapal yang akan naik dan turun kapal dalam keadaan sehat.

"Pelaut merupakan pekerja kunci dalam pelayaraan sehingga penting bagi sektor Industri untuk membuat pengaturan yang fleksibel pada struktur manajemen kapal yang ada. Terlebih lagi, selama beberapa tahun terakhir, Pelaut telah menghadapi keadaan luar biasa dan perlu didukung dan dijadikan prioritas baik saat ini maupun di masa depan," tegas Arif.



Simak Video "Baku Hantam Antar Taruna Kemenhub Viral di Medsos"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT