Dilema 'Harpitnas' di AS
Sabtu, 01 Jul 2006 15:27 WIB
Washington - Dilema soal 'hari kejepit nasional' alias harpitnas ternyata tak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di Amerika Serikat. Misalnya saja yang akan terjadi pada pekan depan. Negara adidaya itu akan merayakan Independence Day pada Selasa, 4 Juli mendatang. Itu artinya, Senin 3 Juli akan menjadi harpitnas. AS memang biasanya menggeser tanggal merahnya, terkecuali untuk Independence Day yang tetap dirayakan pada 4 Juli.Sejumlah perusahaan AS memutuskan untuk meliburkan karyawannya karena khawatir para pekerjanya akan bermalas-malasan. Bayangkan, mereka harus bekerja sementara yang lain masih menikmati enaknya berlibur sambil barbeque.Namun beberapa perusahaan memutuskan untuk tetap buka penuh atau hanya setengah hari. Misalnya saja Wall Street yang tetap berupaya menjadikan Senin 'kejepit' tersebut sebagai hari kerja biasa. Namun bursa saham Wall Street akan tutup pada pukul 13.00, atau tiga jam lebih cepat dari biasanya.Beberapa karyawan di AS yang terpaksa libur pun terlihat bete. "Ini akan menjadi hari yang sangat menantang, bahkan untuk dipikirkan sebagai hari kerja," cetus Joseph Pitino, direktur sebuah perusahaan perekrutan tenaga kerja AS seperti dikutip dari AP.Namun tak seorang pun memperkirakan bahwa rendahnya produktivitas pada harpitnas tersebut akan membawa dampak pada perekonomian AS. Sebuah lembaga riset tenaga kerja AS menyatakan, para perusahaan tidak semestinya khawatir bahwa para pekerjanya akan memutuskan bermalas-malasan pada Senin 'kejepit' tersebut."Sejauh ini, etika pekerja AS dan tingkat produktivitasnya masih terdepan di dunia. Jadi fakta yang kita miliki bahwa hari itu kurang produktif dibandingkan hari lain, saya kira itu tidak terlalu menakutkan. Tidak akan ada ancaman bagi keseluruhan perekonomian," ujar Paul Sanchez, Direktur Mercer Human Resource Consulting.
(qom/)











































