Hati-hati! Ancaman Resesi 2023 di Mana-mana Bukan Sekadar Ramalan

ADVERTISEMENT

Hati-hati! Ancaman Resesi 2023 di Mana-mana Bukan Sekadar Ramalan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 16 Sep 2022 16:19 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Bank Dunia atau World Bank menyebut tahun depan banyak negara yang akan masuk ke jurang resesi. Menanggapi hal tersebut Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan jika itu bukan sekadar proyeksi karena ekonomi beberapa negara besar sudah mengalami perlambatan.

"Ini bukan hanya sekadar ramalan, tapi sudah terjadi pada Amerika Serikat (AS) yang negatif ini mencerminkan ada resesi di negara maju," kata Bhima saat dihubungi, Jumat (16/9/2022).

Bhima mengungkapkan Uni Eropa saat ini juga sudah mengalami tekanan pada pertumbuhan ekonomi. Apalagi dengan adanya krisis energi dan krisis pangan sehingga biaya hidup masyarakat terus naik.

Hal ini terjadi karena invasi Rusia ke Ukraina yang membuat terganggunya gangguan rantai pasok dan menyebabkan hyperinflasi, stagflasi, dan krisis biaya hidup. "Hal ini semuanya jadi kombinasi dan membuat tertekan," jelasnya.

Dalam laporan Bank Dunia disebutkan memang terjadi perlambatan pada ekonomi di AS, China dan Uni Eropa. Saat ini ekonomi global mengalami perlambatan yang paling dalam usai resesi sejak 1970. Selain itu indeks kepercayaan konsumen juga telah mengalami penurunan.

Presiden Bank Dunia David Malpass mengkhawatirkan tren penurunan ini akan terus terjadi sehingga akan mempengaruhi negara berkembang. Bank Dunia memprediksi kenaikan suku bunga yang sedang berlangsung secara global berlanjut hingga tahun depan, tetapi kemungkinan tidak cukup membawa inflasi kembali ke tingkat sebelum pandemi COVID-19.

"Kecuali jika gangguan pasokan dan tekanan pasar tenaga kerja mereda, tingkat inflasi inti global tidak termasuk energi dapat bertahan di sekitar 5% pada 2023, hampir dua kali lipat rata-rata lima tahun sebelum pandemi," jelasnya.

Untuk mendorong inflasi lebih rendah, Bank Dunia menilai perlu kenaikan suku bunga dengan tambahan 2%, meski risikonya pertumbuhan ekonomi global menjadi 0,5% pada 2023, atau kontraksi 0,4% per kapita dan akan memenuhi definisi resesi global secara teknis.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT