Gara-gara Gempa
Inflasi Yogya Tertinggi di Jawa
Rabu, 05 Jul 2006 16:22 WIB
Yogyakarta - Gara-gara gempa, laju inflasi di kota Yogyakarta mencatat angka tertinggi dibandingkan 'rekan-rekannya' di Pulau Jawa. Laju inflasi Kota Yogyakarta mencapai 2,54 persen selama periode triwulan II 2006.Hal itu disampaikan pimpinan Bank Indonesia cabang Yogyakarta, Djarot Sumartono kepada wartawan di Jl Yos Sudarso Yogyakarta, Rabu (5/7/2006).Setelah gempa, inflasi di Kota Yogyakarta pada triwulan II-2006 melonjak sangat tajam hingga mencapai 2,54 persen. Angka itu jauh melebihi inflasi nasional yang hanya 0,87 persen dalam periode yang sama. Sementara estimasi inflasi sebesar 1,77 persen.Djarot mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi di DIY sebelum gempa diproyeksikan mencapai kisaran 4,5-4,8 persen. Namun setelah terjadi gempa hanya berkisar 4,2-4,5 persen. Angka ini berarti jauh lebih kecil dibandingkan laju pertmbuhan ekonomi 2 tahun sebelumnya sebesar 4,91 persen pada tahun 2005 dan 5,12 persen pada tahun 2004.Menurut dia, perkiraan itu didasarkan atas asumsi terjadi penurunan kinerja di beberapa sektor ekonomi seperti industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran dan perdagangan dan komunikasi. Untuk sektor industri pengolahan tumbuh negatif 8,14 persen. Selanjutnya sektor pengangkutan dan komunikasi yang tumbuh 3,28 persen atau lebih rendah dari perkiraan awal 4,87 persen."Paling banyak mengalami penurunan adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yang hanya tumbuh 3,22 persen atau lebih kecil dari perkiraan sebelumnya 5,92 persen," katanya.Djarot menambahkan besarnya kontraksi ekonomi DIY triwulan II akibat gempa secara langsung mengganggu proses produksi atau penciptaan nila tambah pada sektor perdagangan, hotel dan restiran dan sektor industri pengolahan yang jadi ungulan DIY. Kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran turun 2,37 persen padahal sebelumnya diproyeksikan tumbuh 2,29 persen sesuai dengan siklus bisnis normalnya. Kemerosotan sektor ini diakibatkan terganggunya aktivitas perdagangan. Sebab, tidak sedikit pusat perbelanjaan modern dan pasar tradisional yang rusak parah sehingga omzet penjualan juga menurun. Secara keseluruhan nilai tambah subsektor perdagangan triwulan II anjlok hingga 8,74 persen dibandingkan sebelumnya. Namun tidak gempa saja yang berpengaruh. Dinaikkannya status Merapi menjadi awas juga berpengaruh di bisnis perhotelan. "Kita berharap subsektor restoran masih bisa tumbuh positif hingga 1,83 persen karena banyak relawan yang datang," katanya.Pasca gempa, lanjut Djarot, fenomena yang terjadi adalah mulai maraknya aktvitas perekonomian di sektor bangunan. Perdagangan bahan bangunan pada bulan Juni 2006 mengalami lonjakan tajam dibandingan bulan sebelumnya. Hal itu disebabkan juga oleh semakin meningkatnya permintaan, sedangan stok barang yang tersedia di pasaran sangat terbatas.Djarot memperkirakan satu tahun ke depan perekonomian di Yogya ini akan pulih kembali. Namun persepsi dunia usaha untuk pemulihan diperlukan waktu 3-6 bulan dan bisa mencapai keseimbangan. "Sedang persepsi masyarakat umum jauh lebih lambat lebih dari satu tahun. "Ini menunjukkan masyarakat dunia usaha masih optimis, sedang masyarakat cenderung merespon pesimis," tandas Djarot.
(qom/)











































