Yogya Kehilangan 34% Potensi Pasar

Akibat Gempa

Yogya Kehilangan 34% Potensi Pasar

- detikFinance
Rabu, 05 Jul 2006 19:09 WIB
Yogyakarta - Akibat gempa bumi yang melanda Yogyakarta 27 Mei lalu, kegiatan usaha mengalami kerusakan atau kehilangan pasar sebesar 34 persen. Jumlah tersebut didasarkan atas survei yang dilakukan sejumlah perguruan tinggi di DIY bersama Bank Indonesia cabang Yogyakarta.Hal itu dikemukakan oleh pimpinan Bank Indonesia cabang Yogyakarta, Djarot Sumartono kepada wartawan di Jl. Yos Sudarso Yogyakarta, Rabu (5/7/2006).Survei singkat dan cepat (quick research) dilakukan BI Yogyakarta bersama Pusat Pengembangan Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan (PPE-UAD) dan Pusat Pengembangan Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PPE-UMY). Menurut Djarot, Survei itu untuk mengetahui kondisi perekonomian di DIY secara makro dan mikro pasca gempa. Survei ini menggunakan 400 responden terdiri 100 responden untk kategori pedagang eceran, 50 responden kategori industri perumahan, 100 responden untuk dunia usaha dan 150 responden kategori perorangan (konsumen). Wilayah responden secara umum 60 persen di Bantul, 40 persen sisanya di secara merata di seluruh DIY."Komposisi terbesar yang mengalami kerusakan di sektor usaha adalah hilangnya potensi pasar sebesar 34 persen dan kedua adalah rusaknya bangunan 33 persen," katanya.Kerusakan lainnya adalah berhubungan dengan bahan baku sebesar 16 persen serta sarana dan alat usaha/produksi lainya sebesar 15 persen. "Sisanya kerusakan lain di kegiata usaha di DIY baik sektor perdagangan dan non perdagangan sebesar 2 persen," imbuh Djarot.Dia mengatakan, dilihat dari tingkat kerusakannya, mayoritas kerusakan yang diderita oleh sektor usaha masih tergolong ringan. Hal itu berarti pengembalian kegiatan usahanya masih dimungkinkan dalam jangka pendek. Ini juga sesuai dengan prediksi pelaku usaha yang rata-rata memperkirakan kegiatan usaha mereka akan normal kembali dalam jangka 3-6 bulan. "Meski begitu, kerusakan berupa potensi kehilangan pasar harus mendapat perhatian karena berpotensi, dapat mempengaruhi pertumbuhan industri dalam jangka yang relatif tidak singkat," paparnya. Menurut dia, berdasarkan nilai, rata-rata kerusakan yang dialami oleh setiap kegiatan usaha bernilai Rp 25 - 100 juta. Untuk yang di bawah dari Rp 25 juta mencapai 51 persen. Selanjutnya Rp 25 - 100 juta mencapai 31 persen. yang bernilai Rp 101 - 500 juta sebesar 16 persen dan antara Rp 501 juta - Rp 1 miliar hanya 2 persen.Djarot menambahkan, permodalan yang dimiliki oleh pelaku usaha mayoritas berasal dari modal sendiri mencapai 79 persen. Sedang sisanya berasal dari lembaga perbankan sebesar 18 persen, lembaga non bank sebesar 1 persen dan lainnya (pinjaman pribadi) sebesar 2 persen. "Ini menunjukkan bila dampak gempa terhadap sektor perbankan relatif tidak terlampau besar. Justru kerugian terbesar dialami individu pemilik usaha itu sendiri," katanya. Pemulihan aktvitas bisnis dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap segala kerusakan dipengaruhi oleh kemampuan finansial yang dimiliki. Survei menunjukkan, 78 persen pelaku usaha memailiki tabungan, namun 46 persen responden menyatakan tabungan yang dimiliki hanya sangup mendanai kurang dari 25 persen dari seluruh kebutuhan dana. Kebutuhan dana sangat mendesak karena saat ini sebagian besar sektor industri memiliki oustanding purchase order yang harus segera dipenuhi dan dikirimkan kepada pembeli. Hal ini tidak bisa dibiarkan, karena dikhawatirkan akan terjadi potensi kehilangan pasar yang sangat besar bagi sektor industri di DIY. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads