Apakah AS Sudah Resesi? Ini Jawabannya

ADVERTISEMENT

Apakah AS Sudah Resesi? Ini Jawabannya

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 21 Sep 2022 16:25 WIB
The U.S. Capitol is seen between flags placed on the National Mall ahead of the inauguration of President-elect Joe Biden and Vice President-elect Kamala Harris, Monday, Jan. 18, 2021, in Washington.
Foto: AP/Alex Brandon
Jakarta -

YouGov BrandIndex melakukan jajak pendapat dan mengungkap tiga dari lima orang Amerika Serikat (AS) mengatakan negaranya sudah berada dalam resesi. Melonjaknya inflasi ke tingkat tertinggi sejak 1980-an telah membuat suasana buruk bagi banyak orang.

Beberapa orang AS memilih berkendara lebih sedikit untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM). Pasar perumahan yang dulu bergejolak, sekarang sedang melambat.

Indeks S&P 500 ikut turun 19% selama tahun ini. Hal itu membuat triliunan dolar kekayaan hilang mulai dari investor muda hingga calon pensiunan.

Meski begitu, pemerintah masih membantah bahwa AS telah resesi. Sebelum mengetahui lebih dalam apa yang terjadi, simak penjelasan di bawah ini dilansir dari BBC, Rabu (21/9/2022).

Apa Sih Resesi Itu?

Resesi adalah situasi yang terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara berada di bawah 0 (negatif) selama dua kuartal berturut-turut. Jika dalam kuartal berikutnya ekonomi tetap negatif, maka resesi berlanjut.

Hal ini menandakan bahwa dalam jangka pendek suatu bisnis akan melakukan banyak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Sebuah negara berhasil keluar dari resesi jika ekonominya sudah bisa tumbuh positif lagi.

Apakah AS Sedang Dalam Resesi?

Ekonomi AS telah turun selama dua kuartal berturut-turut yakni -1,6% pada kuartal I-2022 dan 0,6% pada kuartal berikutnya. Di sebagian besar negara itu adalah resesi, namun tidak di AS.

Indikator ini membingungkan bahkan kalangan ekonom mengungkapkan untuk menyebut kondisi ini resesi harus dilihat beberapa indikator dan perhitungan yang akurat.

Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) Christopher Waller menepis soal kekhawatiran resesi. Dia mengungkapkan ada 315.000 pekerja baru pada Agustus 2022 dan itu bukan menandakan pelemahan ekonomi.

"Pasar tenaga kerja AS yang kuat memberi kita fleksibilitas untuk menjadi agresif dalam perjuangan kita melawan inflasi, kata Waller.

The Fed telah mengatakan tidak akan ragu untuk mempertahankan suku bunga tinggi selama diperlukan untuk menurunkan inflasi. Pihaknya mengaku tidak akan gentar dalam menurunkan harga, meskipun prosesnya tidak mungkin mulus.

Jika menaikkan suku bunga terlalu banyak, ekonomi bisa terjun ke dalam resesi. Di sisi lain jika menaikkannya terlalu sedikit maka inflasi bisa terus melonjak.



Simak Video "Sri Mulyani: Dunia Tidak Baik-baik Saja, Inflasi di Berbagai Negara"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT