Massa Buruh dan Petani Diterima Kasetpres Heru Budi, Sampaikan 3 Poin Ini

ADVERTISEMENT

Massa Buruh dan Petani Diterima Kasetpres Heru Budi, Sampaikan 3 Poin Ini

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 24 Sep 2022 15:25 WIB
Presiden Partai Buruh Said Iqbal (kedua dari kanan) dan Sekjen SPI Agus Ruli (pertama dari kanan)/(Anggi-detikcom)
Foto: Presiden Partai Buruh Said Iqbal (kedua dari kanan) dan Sekjen SPI Agus Ruli (pertama dari kanan)/(Anggi-detikcom)
Jakarta -

Perwakilan aliansi buruh dan petani diterima oleh pihak Istana Negara. Buruh diterima langsung Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, ada tiga isu yang disampaikan buruh, yaitu reforma agraria, menolak kenaikan harga BBM, dan menolak Omnibus Law.

"Pertama reforma agraria. Ada janji pemerintah, khususnya Jokowi yang termasuk berjanji meredistribusi tanah untuk petani sekitar 9 juta hektar. Tapi sayangnya kebijakan beliau tidak ditindkalanjuti oleh pejabat yang ditunjuk untuk implementasi agraria," kata Said Iqbal usai kembali dari Istana Negara, Sabtu (24/9/2022).

Poin kedua yang disampaikan adalah menolak Omnibus Law. Dalam Omnibus Law terdapat konsep bank tanah yang disebutnya hanya untuk komersialisasi lahan-lahan pertanian.

Menurut Said Iqbal, konsep bank tanah menguntungkan korporasi sebab petani kehilangan hak tanah garapannya. Oleh karena itu ia menginginkan reforma agraria agar menjadi bagian dari bank tanah tersebut.

Omnibus Law juga ditolak karena diklaim mempermudah laju imopor. "Dalam undang-undang pangan, impor hanya diperbolehkan saat cadangan pangan tidak mencukupi. Dalam Omnibus Law konsep itu hilang, bahkan dalam tanda kutip brutal. Impor akan membesar dan merugikan petani," sambungnya.

Poin terakhir yang disampaikan buruh-petani adalah penolakan terhadap kenaikan harga BBM. Kenaikan harga BBM bisa memberatkan petani.

Contohnya, biaya produksi meningkat, sewa traktor meningkat, harga pupuk naik, dan lainnya. Di sisi lain hal ini tidak diimbangi oleh kepastian harga yang belum jelas.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT