ADVERTISEMENT

Dolar AS Tembus Rp 15.000, Apa Kabar Bahan Pangan Impor?

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 26 Sep 2022 10:24 WIB
Bowl filled with wheat flour on a rustic wooden table. Bowl is on left side and on right side there is a heap of whole wheat seeds.  In front of the bowl, there are three wheat ears. Shot with a DSLR Canon EOS 5D Mark II
Foto: Getty Images/carlosgaw
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini begitu mendominasi rupiah. Bahkan saat ini mata uang Paman Sam itu masih betah di level Rp 15.000.

Penguatan nilai tukar dolar AS tersebut disinyalir akan berdampak pada kenaikan harga barang impor di tanah air. Menteri Perdagangan RI Zulkifli Hasan pun mengakui, pelemahan nilai tukar rupiah sudah barang tentu berpengaruh pada harga barang impor. Namun menurutnya pengaruhnya tidak akan terlalu besar.

"Ya kalau rupiah banyak sekali, ya problem. Tapi kalau sedikit (melemahnya), saya kira nggak akan begitu banyak karena gandum harganya cenderung turun, jadi kita udah lewati harga paling tinggi," kata Zulhas dalam konferensi pers Kinerja 100 Hari Mendag, Jakarta Pusat, Minggu (25/09/2022).

Selain gandum, Zulhas pun mencontohkan dengan pakan ternak. Menurutnya, pakan ternak merupakan satu yang paling terpengaruh karena bahan bakunya yang kebanyakan impor. Kendati demikian, impornya pun tidak begitu banyak.

"Pengaruhnya terhadap yang impor itu kan bahan baku pakan ternak, itu juga kan impornya nggak terlalu banyak. Gandum, jagung di kita, paling itu terhadap tepung ikan sama ada beberapa vitamin, jadi pengaruhnya nggak akan banyak juga," jelasnya.

Meski demikian, Zulhas mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan dan upaya stabilisasi harga agar sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) masing-masing komoditas kebutuhan pokok. Di luar itu, semua mengikuti harga keekonomian pasar global.

Di sisi lain, apabila kenaikan harga barang impor di pasaran ini barang tentu akan mempengaruhi daya beli masyarakat. Apalagi kondisi tingginya harga beberapa kebutuhan pokok lainnya serta kenaikan BBM baru-baru ini juga menambah beban masyarakat. Oleh karena itu, Zulhas menyebut, pemberian bansos menjadi salah satu solusi tepat.

"Kalau rupiah itu, kan bisa dampak langsung ke harga. Itu sudah diatasi dengan bantuan langsung itu. Yang menyiapkan bantuan langsung itu pintar sekali, sehingga nggak ada gejolak sama sekali waktu kenaikan BBM. Yang marah itu kan aktivis sebetulnya. Tapi kalau kita lihat di bawah nggak," ungkapnya.

Ia mencontohkan, misalnya dengan bantuan subsidi upah (BSU) sebesar Rp 600.000, para pekerja mendapat kenaikan upah dengan nilai 7,7%. Sedangkan untuk BLT BBM senilai Rp 150.000 sebanyak 4 kali, Zulhas menyebut, masyarakat mendapat tambahan pendapatan 4,9%. Di sisi lain, Zulhas mengatakan, inflasi paling tinggi berada pada 3,3%. Oleh karena itu, menurutnya masyarakat masih dapat untung.

Selain itu, pemerintah juga akan menggelontorkan subsidi transportasi, yang disalurkan oleh pemerintah daerah. Zulhas mengatakan, dana ini diharapkan mampu menurunkan biaya logistik sehingga harga pangan di pasar juga bisa ikut turun.



Simak Video "Rakernas PUAN, Zulhas Tegaskan Kesetaraan Gender di PAN"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT