Pemadaman Listrik Bergilir Bikin Rugi Rp 2 Miliar/Hari
Jumat, 07 Jul 2006 14:27 WIB
Pekanbaru - Ulah PLN Wilayah Riau melakukan pemandaman bergilir menimbulkan kerugian hingga Rp 2 miliar per hari. Angka ini dihitung dari kerusakan barang-barang elektronik serta usaha kecil dan menengah yang terganggu. Direktur Operasi, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Riau, Sukardi Alizhar mengungkapkan hal itu kepada detikcom, Jumat (7/07/2006) di Pekanbaru. Menurut Sukardi, perincian kerugian yang dimaksud, merupakan hasil laporan ratusan ribu konsumen PLN yang merasa dirugikan akibat pemadaman bergilir yang saban tahun terjadi. "Selain pengaduan dari konsumen, kita juga melakukan cros cek ke lapangan akibat pemadaman bergilir. Hampir seluruh pelanggan PLN merasa kecewa dan dirugikan atas sistem pemadaman bergilir tersebut," kata Sukardi. YLKI merincikan berbagai keluhan dan kerugian konsumen. Di antaranya, hampir setiap pelangan PLN mengalami kerusakan barang-barang elektroniknya yang mati secara mendadak akibat pemadaman tersebut. "Pengaduan yang kita terima, minimal satu pelanggan mengeluhkan televisi mereka rusak akibat sering padamnya lampu secara mendadak. Untuk memperbaiki minimal membutuhkan dana Rp300 ribu, dan ini baru hitungan terkecil. Belum lagi sejumlah perkantoran yang mengeluhkan banyaknya komputer serta AC mereka yang rusak," kata Sukardi. Selain barang elektronik, lanjut Sukardi, konsumen juga mengeluhkan usaha kecil mereka yang tersendat akibat pemadaman bergilir. Pemadaman ini mengakibatkan pendapatan dari usaha kecil menengah mengalami penurunan drastis. Keluhan itu sendiri, misalnya, kata Sukardi, usaha rumah tangga membuat makanan ringan yang menggunakan alat eletronik. Masakan yang mestinya bisa tepat waktu untuk segera dijual, kini sering terlambat akibat pemadaman listrik. Kondisi ini jelas mengurangi omset penjualan mereka. "Semua ini tidak terlepas ulah PLN yang saban tahun membuat pemadaman bergilir. Tapi, selama ini posisi konsumen selalu saja pada objek penderita tanpa bisa mengklaim kerugian kepada perusahaan negara itu," kata Sukardi. Menurut Sukardi, YLKI sendiri sudah berupaya mengampanyekan ke masyarakat dan pihak terkait lainnya termasuk PLN atas kerugian ini. "Kita mengharapkan pemerintah daerah bisa segera memanggil pihak manajemen PLN untuk membahas bersama soal pemadaman yang tak pernah berhenti ini," kata Sukardi. Selama ini pihak PLN sering berdalih pemadaman dilakukan seiring surutnya air waduk PLTA Koto Panjang di Kampar saat musim kemarau yang mengakibatkan turunnya energi listrik. "Kita bisa memaklumi atas alasan PLN tersebut. Hanya saja, mestinya PLN itu sudah mengantisipasi bila musim kemarau tiba. Minimal mereka bisa mempersiapan cadangan pembangkit saat menghadapi musim kemarau.Tapi upaya itu sendiri belum pernah dilakukan pihak PLN Riau. Ini yang kita kesalkan," kata Sukardi.
(qom/)











































