Ramalan Orang Terkaya ke-2 Dunia: Ekonomi China Keok, India Kinclong

ADVERTISEMENT

Ramalan Orang Terkaya ke-2 Dunia: Ekonomi China Keok, India Kinclong

Dana Aditiasari - detikFinance
Rabu, 28 Sep 2022 13:25 WIB
Chairperson of Indian conglomerate Adani Group, Gautam Adani delivers his speech during the inauguration 6th the Bengal Global Business Summit (BGBS) in Kolkata, India, Wednesday , On April 20,2022. (Photo by Debajyoti Chakraborty/NurPhoto via Getty Images)
Foto: Debajyoti Chakraborty/Getty Images
Jakarta -

Orang terkaya asal India Gautam Adani mengatakan bahwa China akan semakin terisolasi dan kesulitan untuk bangkit kembali dari tekanan ekonomi yang terjadi imbas pandemi.

Dalam paparannya pada sebuah konferensi di Singapura pada hari Selasa, Adani mengatakan, ada sejumlah aspek yang bakal memperburuk kondisi ekonomi China.

"Peningkatan nasionalisme, mitigasi risiko rantai pasokan, dan pembatasan teknologi, serta perlawanan terhadap inisiatif besar Sabuk dan Jalan Beijing (yang digagas China) akan berdampak pada peran China dalam ekonomi global," kata Adani dikutip dari CNBC, Rabu (28/9/2022).

Orang terkaya di Asia ini mengatakan bahwa risiko perumahan dan kredit di ekonomi terbesar kedua di dunia itu juga menunjukkan kondisi yg mirip dengan apa yang terjadi pada ekonomi Jepang selama 'dekade yang hilang' pada 1990-an.

Sementara pesimis tentang China, Adani tetap optimis tentang negaranya sendiri.

"India adalah "salah satu dari sedikit titik terang dari perspektif politik, geostrategis, dan pasar," tegas Adani.

Dia meramal India untuk menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia pada tahun 2030, dengan kelas menengah konsumen terbesar yang pernah ada di dunia.

Ia mengklaim bahwa beberapa perusahaan teknologi yang ingin mengurangi ketergantungan mereka pada manufaktur China telah melihat India sebagai alternatif yang menarik.

Misalnya Apple yang mengumumkan bahwa mereka telah mulai membuat iPhone 14 baru di India, karena raksasa teknologi itu ingin mendiversifikasi rantai pasokannya.

Sementara perusahaan memproduksi sebagian besar produknya di China, ia telah memutuskan untuk mulai memproduksi perangkat terbarunya di India jauh lebih awal daripada generasi sebelumnya.

Bisnis mungkin harus pindah dari China bukan hanya karena pembatasan COVID yang ketat, yang telah merusak rantai pasokan selama berbulan-bulan sekarang, tetapi juga karena meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing atas Taiwan.

Pemerintah AS memerintahkan dua pembuat chip top Amerika untuk berhenti menjual chip berkinerja tinggi ke China awal bulan ini. Dan, pekan lalu, para pemimpin bank terbesar Amerika mengatakan mereka bisa keluar dari China jika negara itu menyerang Taiwan.

Adani juga menyebutkan tantangan yang dihadapi Inggris, dan negara-negara di Uni Eropa, karena perang di Ukraina dan Brexit.

"Sementara saya berharap semua ekonomi ini akan menyesuaikan kembali dari waktu ke waktu - dan bangkit kembali - gesekan dari pemantulan kembali terlihat jauh lebih sulit kali ini," katanya.

Tonton juga Video: Luhut Sebut Pengamat AS Kagum dengan Kebijakan Ekonomi Jokowi

[Gambas:Video 20detik]




(dna/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT