Nggak Neko-neko, Petani Rumput Laut 'Tnyafar' Harap Ini ke Pemerintah

ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Nggak Neko-neko, Petani Rumput Laut 'Tnyafar' Harap Ini ke Pemerintah

Erika Dyah - detikFinance
Selasa, 04 Okt 2022 15:45 WIB
Segarnya Budidaya Rumput Laut, Panen Per 1,5 Bulan Hasilkan Rp 30 Juta
Foto: detikcom/Agung Pambudhy
Kepulauan Tanimbar -

Tak sedikit dari masyarakat Desa Adaut, Kecamatan Selaru, Kabupaten Kepulauan Tanimbar yang pergi 'Tnyafar' jadi petani rumput laut di pesisir pantai demi memenuhi kebutuhan keluarga. Tradisi dari zaman nenek moyang ini disebut menghasilkan cuan meski masyarakat harus hidup sederhana.

Istilah Tnyafar meliputi sebuah tradisi, kelompok, rumah, hingga aktivitas masyarakat Adaut yang memilih 'migrasi' ke pesisir demi menyambung hidup. Sejak dulu, masyarakat Desa Adaut memilih hidup sederhana di bawah gubuk-gubuk kayu di pesisir Pantai Buariat untuk bertani rumput laut maupun berkebun di tanah sekitar pesisir.

Warga Tnyafar hidup sangat sederhana, bahkan aliran listrik pun belum menjangkau area tersebut. Akses jalannya pun sangat terbatas, hanya bisa ditempuh melalui jalan tanah berbatu yang penuh debu sehingga masyarakat di sana tak bisa sering-sering ke pasar untuk membeli bahan makanan.

Demi mengisi perut sehari-hari, mereka biasanya mengandalkan ikan hasil tangkap di laut. Sedangkan sayur merupakan barang mewah yang cukup jarang bisa didapat, kecuali mereka berbelanja terlebih dulu saat pulang ke kampung untuk beribadah di akhir pekan.

Meski harus hidup sederhana, para petani rumput laut di Tnyafar mengaku bisa mendapat cuan yang lebih baik dibandingkan saat tinggal di kampungnya. Sebab, dari satu kali panen rumput laut yakni dalam 1,5 bulan sekali mereka bisa meraih omzet jutaan.

Kepulauan TanimbarKepulauan Tanimbar Foto: detikcom/Agung Pambudhy

Syarifudin misalnya, pria yang mulai Tnyafar sejak 2017 bisa meraih penghasilan hampir Rp 30 juta dalam sekali panen saat harga rumput laut sedang tinggi.

"Penghasilan (dari panen) kadang Rp 20 jutaan, itu harga standar. Saya pernah (jual) harga Rp 38 ribu/kg. Penghasilan Rp 20 juta lebih, hampir Rp 30 juta," ungkap Syarifudin kepada detikcom baru-baru ini.

Menurutnya, budidaya rumput laut di Tnyafar memiliki prospek yang cukup cerah. Pasalnya dalam 1-2 tahun ke belakang harganya kian merangkak naik. Kendati demikian, ia menilai masih ada sejumlah masalah yang kerap dihadapi para petani, salah satunya soal hama yang bisa mempengaruhi kualitas rumput laut.

Ia berharap Dinas Perikanan maupun pemerintah terkait bisa mencari jalan untuk menangani masalah hama yang sering terjadi di Tnyafar.

"Sampai sekarang belum ada sosialisasi soal ini. Cuma petani saja yang cari jalan sendiri," katanya.

Selain itu, para petani juga merasa sering kesulitan untuk mengeringkan rumput laut yang sudah dipanen karena tidak memiliki alat yang memadai terutama saat musim hujan datang. Sebab hingga kini petani di Tnyafar hanya mengandalkan sinar matahari alami untuk mengeringkan rumput laut yang akan dijual.

"Macam baru-baru ini hujan 1 bulan penuh orang tidak bisa panen. Mau panen bagaimana (kalau) hujan. Seharusnya ada bantuan pemerintah, tempat pengeringan dengan blower ini. Kalau sendiri nggak kuat ini, besar anggarannya blower-blower ini," harapnya.

Segarnya Budidaya Rumput Laut, Panen Per 1,5 Bulan Hasilkan Rp 30 JutaSegarnya Budidaya Rumput Laut, Panen Per 1,5 Bulan Hasilkan Rp 30 Juta Foto: detikcom/Agung Pambudhy

Syarifudin mengaku sejauh ini pihaknya hanya mengeringkan rumput laut secara manual. Caranya, dengan membangun tenda sementara di musim hujan sehingga rumput laut yang sudah dipanen tetap bisa dijemur dan terkena angin. Namun ia tetap berharap adanya bantuan blower dengan sistem lebih baik agar dapat mempermudah para petani.

"Daripada kita harus keringkan manual seperti ini, setengah mati rasanya pas musim hujan. Tapi kalau musim panas begini enak, kita tinggal lepas begitu saja (di bawah matahari). Saat kering baru kita mulai angkat (rumput laut)," terangnya.

Ia pun berharap pemerintah bisa turun tangan mengontrol harga komoditas rumput laut untuk menghindari permainan harga yang bisa merugikan petani. Sebab hingga kini harga rumput laut masih ditentukan secara sepihak oleh para pembeli yang akan membawa hasil panennya ke kota.

Di kesempatan berbeda, Kepala Dinas Koperasi UKM dan Transmigrasi Kep. Tanimbar Ambrosius Sabono mengaku sadar akan banyaknya potensi yang ada di Kepulauan Tanimbar. Termasuk juga potensi pertanian dari budidaya rumput laut di Tnyafar. Sabono menegaskan perlunya sinergitas antara SKPD kelembagaan maupun LSM dan masyarakat untuk membangun potensi-potensi yang ada di sini.

"Puji tuhan sejauh ini kita sudah bersinergi dengan perbankan dan SKPD lain untuk mendorong para pelaku UMKM lain agar semangat dalam mengembangkan potensi yang ada dan apa yang mereka miliki," papar Sabono.

Petani Rumput Laut di Kepulauan TanimbarPetani Rumput Laut di Kepulauan Tanimbar Foto: detikcom/Agung Pambudhy

"Dalam 2 tahun terakhir saya memimpin, saya juga bangun sinergitas dengan BRI. Saya dorong juga kalau bisa dana KUR sebanyak mungkin ditawarkan kepada UMKM. Saya tahu itu, saya juga sering kerja sama dengan BRI jadi narasumber untuk dorong sinergi lintas stakeholder demi memajukan semua potensi di Tanimbar," tegasnya.

Adapun salah satu dukungan perbankan ini telah dirasakan manfaatnya oleh Beatrix Srue, petani rumput laut di Tnyafar yang mendapat pinjaman Kupedes dari BRI hingga Rp 30 juta. Berkat bantuan ini, ia bisa meningkatkan usahanya dari yang semula menanam 10 tali rumput saja. Kini bisa menanam 30 tali rumput laut dalam sekali masa panen.

"Waktu belum ada BRI, uang kita hanya simpan di rumah. Untuk pinjam meminjam susah juga, karena kalau pinjam di luar bunganya banyak. Tapi ketika ada BRI kita bisa simpan uang dan bisa pinjam dengan bunga yang begitu rendah," pungkas Beatrix.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Mengenal Bagan, Alat Tangkap Ikan Nelayan Anambas"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT