Gawat Pak Erdogan! Inflasi Turki Tembus 83%, Rekor Tertinggi Dalam 24 Tahun

ADVERTISEMENT

Gawat Pak Erdogan! Inflasi Turki Tembus 83%, Rekor Tertinggi Dalam 24 Tahun

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 04 Okt 2022 12:22 WIB
Turkish Flag on cloudy blue sky.The flag is waving due to heavy wind.On the background white clouds are seen.Up right side of frame is blue sky.No people are seen in frame.
Foto: Getty Images/iStockphoto/selimaksan
Jakarta -

Laju inflasi di Turki mengalami kenaikan yang sangat tinggi. Inflasi itu didorong oleh kenaikan harga di sektor transportasi, makanan dan perumahan.

Melansir BBC, Selasa (4/10/2022), inflasi di Turki tercatat naik di atas 83%. Laju inflasi itu merupakan yang tertinggi 24 tahun.

Bahkan pakar independen Kelompok Riset Inflasi memperkirakan tingkat tahunan sebenarnya 186,27%.

Tahun lalu Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengambil langkah yang tidak lazim dengan memotong suku bunga untuk mencoba meningkatkan perekonomian. Namun sebagian besar bank sentral menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi.

Sektor transportasi mengalami kenaikan harga tahunan paling tajam sebesar 117,66%, diikuti oleh makanan dan minuman non-alkohol sebesar 93%.

Erdogan bahkan menyebut kenaikan suku bunga menjadi sumber dari segala kekacauan ekonomi saat ini. Dia juga memandang negatif kebijakan lain dari bank sentral termasuk intervensi di pasar valuta asing.

Misalnya pemotongan suku bunga tahun lalu dari 19% menjadi 14% telah menyebabkan jatuhnya nilai tukar lira Turki. Kondisi itu membuat nilai impor di Turki menjadi jauh lebih mahal.

"Kami akan membangun abad Turki bersama, semoga dengan mengatasi masalah inflasi," kata Erdogan dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Senin.

Rekor tertinggi adalah lonjakan inflasi paling tajam sejak Perang Dunia Kedua, menurut mantan kepala ekonom bank sentral Turki Hakan Kara.

Inflasi yang tinggi dan krisis ekonomi adalah masalah utama yang dihadapi partai berkuasa Erdogan, karena ia ingin mengamankan masa jabatan lagi dalam pemilihan tahun depan.

Harga naik dengan cepat di seluruh dunia, karena faktor-faktor termasuk kekurangan pasokan terkait Covid dan perang Ukraina, yang telah mendorong harga energi dan makanan lebih tinggi.

(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT