Daftar Negara yang Dibayangi Resesi 2023, Ada Indonesia?

ADVERTISEMENT

Daftar Negara yang Dibayangi Resesi 2023, Ada Indonesia?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Rabu, 05 Okt 2022 12:52 WIB
Resesi Ekonomi Dorong Sri Lanka Bergantung pada Cina dan India
Resesi 2023 Hantui Negara-negara Ini/Foto: DW (News)
Jakarta -

Kondisi ekonomi dunia semakin tidak menentu dan tengah dihadapkan pada tantangan ancaman resesi 2023. Hal ini nampak dari bagaimana suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara semakin tinggi.

Sebelumnya, Sri Mulyani mengatakan kondisi ini dapat menciptakan stagflasi. Stagflasi adalah situasi di mana pertumbuhan ekonomi melambat, disertai dengan kenaikan harga (inflasi).

"Kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi berpotensi mempengaruhi kinerja ekonomi global 2023 yaitu potensi koreksi ke bawah. Inflasi yang meningkat dan pertumbuhan ekonomi yang melambat dapat menciptakan situasi stagflasi," kata Sri Mulyani dalam rapat paripurna di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (29/9/2022).

Sri Mulyani menyebut negara seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) bahkan berpotensi mengalami resesi pada 2023 mendatang. Padahal negara maju tersebut merupakan penggerak perekonomian dunia.

"Negara maju seperti AS dan Eropa yang juga merupakan penggerak perekonomian dunia berpotensi mengalami resesi pada 2023," ucapnya.

Di sisi lain, menurut Bank Dunia dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), dijelaskan bahwa tekanan inflasi yang begitu tinggi di banyak negara tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang diprediksi ikut terseret ke dalam jurang resesi akibat inflasi yang terus meningkat. Melihat kondisi ini, lantas negara mana saja yang berpotensi mengalami resesi 2023?

Melansir dari CNN Indonesia, berikut negara-negara yang terancam masuk resesi 2023:

1. Amerika Serikat (AS)

Pertumbuhan ekonomi AS terkontraksi 0,6 persen pada kuartal II 2022, setelah minus 1,6 persen pada kuartal I 2022.

Kendati sudah dua kuartal berturut-turut terkontraksi, namun ekonomi AS belum dibilang resesi. Pengumuman resesi ekonomi dibuat oleh Bussiness Cycle Dating Committee, badan yang terdiri dari delapan ahli ekonomi yang dipilih oleh Biro Nasional Riset Ekonomi, organisasi non-profit.

Hingga kini, mereka masih ogah menggunakan kata resesi tersebut. Sedang di lain sisi, The Fed menepis kekhawatiran soal resesi. Bank sentral AS bersikeras menjelaskan bahwa pasar kerja AS masih kuat dengan bukti 315 ribu pekerja baru pada Agustus 2022.

"Pasar tenaga kerja AS yang kuat memberi kami fleksibilitas untuk menjadi agresif dalam perjuangan kami melawan inflasi," tulis The Fed.

2. Eropa

Mata uang euro yang merosot ke level terlemahnya terhadap dolar sejak akhir 2002 membuat kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap resesi. Kenaikan harga gas alam turut menjadi pemicu ketakutan resesi.

Data menunjukkan perlambatan tajam dalam pertumbuhan bisnis pada Juni. Tak hanya itu, rilis memperlihatkan defisit perdagangan pada Mei 2022 yang disesuaikan secara musiman sebesar 1 miliar euro di Jerman, berlawanan dengan ekspektasi surplus.

Perekonomian Inggris juga menunjukkan tanda-tanda perlambatan karena inflasi tinggi. Suku bunga acuan bank sentral Inggris bahkan sudah naik 200 basis poin selama 2022. Eropa terancam resesi 2023.

"Ekonomi mulai terlihat seperti lama-kelamaan akan habis terhenti," ujar Kepala Ekonom Bisnis di S&P Global Market Intelligence Chris Williamson.

3. China

Menurut laporan Bank Dunia pada Selasa (27/9), China yang merupakan 86 persen dari output ekonomi kawasan 23 negara, diproyeksikan tumbuh 2,8 persen tahun ini. Angka ini merupakan penurunan signifikan dari perkiraan sebelumnya yang berada di angka 5,0 persen.

Ekonomi China memang melemah dalam beberapa bulan terakhir menyusul kebijakan lockdown yang diberlakukan di Negara Tirai Bambu itu. Hal tersebut turut mengganggu sektor industri, penjualan domestik, hingga aktivitas ekspor.

"Kami memproyeksikan pertumbuhan PDB riil melambat tajam menjadi 4,3 persen pada 2022 sampai dengan 0,8 poin, persentase lebih rendah dari yang diproyeksikan dalam Pembaruan Ekonomi China Desember," tulis IMF dalam laporan perekonomian China Juni 2022.

4. Mongolia

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, memperkirakan kondisi keuangan global yang lebih ketat dan dampak geopolitik bakal memperburuk profil keuangan eksternal Mongolia yang lemah.
"Kami memproyeksikan defisit neraca berjalan Mongolia pada 2022 akan melebar menjadi 16,3 persen dari PDB dan beban utang luar negeri bersihnya menjadi besar pada 167 persen dari PDB," tulis analis Fitch.

Ketergantungan Pemerintah Mongolia pada utang luar negeri turut meningkatkan kerentanan terhadap pergeseran sentimen investor internasional yang dapat menghasilkan perlambatan ekonomi.

5. Korea Selatan

Saham Korea Selatan jatuh pada awal Juli 2022 karena investor khawatir kenaikan suku bunga acuan untuk memerangi inflasi bakal memicu perlambatan ekonomi.

Analis di Samsung Securities Seo Jung-hun menyebut saham Korea Selatan, seperti pasar saham Taiwan, sensitif terhadap momentum siklus ekonomi dan bereaksi terhadap ketakutan resesi.

6. Indonesia

Menurut Sri Mulyani, perekonomian Indonesia masih cukup sehat dan aman dari ancaman resesi. Namun, masih ada risiko resesi ekonomi yang dialami Indonesia, yakni sebesar 3 persen.

"Kita (Indonesia) relatif dalam situasi yang tadi disebutkan risiko (potensi resesi) 3 persen," tutur Sri Mulyani dalam konferensi pers di Nusa Dua, Rabu (13/7), mengamini survei yang dilakukan Bloomberg soal potensi resesi negara-negara dunia.

Dengan demikian, blia dibandingkan dengan sejumlah negara tadi, Indonesia masih terbilang cukup aman dari ancaman resesi 2023.

Lihat juga video 'Sinyal Sri Mulyani soal Dunia Akan Resesi':

[Gambas:Video 20detik]



(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT