Penjualan Mobil Tak Banyak Terpengaruh Jor-joran Suku Bunga
Kamis, 13 Jul 2006 12:38 WIB
Jakarta -
Perbankan dan perusahaan pembiayaan (leasing) kini sedang berlomba memberi kredit mobil berbunga rendah hingga di bawah 10 persen. Namun jor-joran suku bunga itu dianggap tidak akan terlalu banyak mendongkrak angka penjualan otomotif.Pendapat tersebut disampaikan oleh Presdir PT Indomobil Sukses Makmur Tbk Gunadi Sinduwinata kepada wartawan di Showroom Volvo Pondok Indah, Jakarta Selatan, Kamis (13/7/2006)."Kalau bagi konsumen dengan penurunan tingkat bunga yang dilakukan perusahaan leasing akan memberikan kesempatan yang lebih banyak untuk mengambil mobil. Tapi kalau secara signifikan akan mendongkrak penjualan mobil, saya kira itu tidak akan terjadi," kata Gunadi.Gunadi juga mengingatkan adanya dampak negatif yang mungkin timbul dari 'perlombaan' suku bunga ini. Menurutnya, dampak negatif itu berupa kompetisi yang tidak sehat yang justru bermasalah bagi industri. Meski demikian, Gunadi mengaku bahwa distributor maupun produsen kendaraan bermotor menyambut baik adanya ketersediaan dana bagi konsumen dengan suku bunga yang sangat rendah untuk memiliki kendaraan. Indomobil Group yang juga memiliki leasing akan menanggapi masalah perlombaan suku bunga ini dengan hati-hati. Yang pasti, ia menilai suku bunga di bawah 10 persen tidaklah reasonable."Rata-rata kredit komersial kan 18 persen. Biasanya ditambahkan lagi 5 persen untuk faktor risiko dll. Kita sendiri akan hati-hati mempertimbangkan untuk menurunkan suku bunga. Itu kan tergantung cost of fund. Tapi bagi kita yang penting kalau dilakukan penurunan itu yang reasonable," jelasnya.Angka Penjualan MobilDalam kesempatan tersebut Gunadi juga mengatakan bahwa mulai Juli, angka penjualan mobil sudah terlihat meningkat meski tidak terlalu signifikan. Hingga paruh tahun 2006, angka penjualan mobil baru mencapai 139 ribu. Namun di akhir tahun dengan penurunan suku bunga dan momen Gaikindo diharapkan penjualan mobil bisa mencapai 320-340 ribu unit. Peningkatan penjualan akan terjadi untuk segmen MPV yang kisaran harganya Rp 150-200 juta. Sedangkan kelas premium diprediksi tidak akan tumbuh. "Yang punya uang untuk membeli kelas premium mungkin mereka mempertimbangkan lebih baik ditaruh di bank karena suku bunga masih tinggi," tegas Gunadi.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































