Inggris Diterpa Cobaan: Anak Makan Karet, PSK Menjamur, PM Mundur

ADVERTISEMENT

Inggris Diterpa Cobaan: Anak Makan Karet, PSK Menjamur, PM Mundur

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 21 Okt 2022 15:34 WIB
A homeless man sleeps in his sleeping bag on The Strand in central London on October 1, 2022, as campaigners gather in the city to protest against the cost of living crisis. (Photo by JUSTIN TALLIS / AFP) (Photo by JUSTIN TALLIS/AFP via Getty Images)
Inggris Diterpa Krisis/Foto: Justin Tallis/AFP/Getty Images
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Inggris Liz Truss telah memutuskan untuk mundur dari jabatannya. Ia mundur setelah 45 hari menjabat di posisi tertinggi pemerintahan Inggris.

Dikutip dari CNBC, Kamis (20/10/2022), pengunduran diri tersebut menyusul kegagalan pemotongan pajak yang mengguncang pasar keuangan, serta menimbulkan perlawanan di dalam Partai Konservatif-nya sendiri.

Selain itu, ia mengundurkan diri karena merasa tidak mampu dalam menangani krisis yang terjadi di Inggris saat ini.

Perempuan berusia 47 tahun itu mengatakan telah menyampaikan pengunduran dirinya kepada Raja Charles III. Ini setelah bertemu dengan Graham Brady, pemimpin Komite Partai Konservatif 1922, pada Kamis pagi waktu setempat.

"Mengingat situasinya, saya tidak bisa menyampaikan mandat yang saya pilih oleh Partai Konservatif," katanya dalam pidato singkat Kamis, waktu setempat.

Saat ini Negara yang telah dipimpin oleh Raja Charles III ini memang tengah dilanda krisis karena biaya hidup yang meningkat secara signfikan. Berikut rangkumannya:

1. Banyak Wanita Terjun ke Prostitusi

Kenaikan biaya hidup juga membuat banyak perempuan yang terjun ke bisnis prostitusi. Mengutip data English Collective of Prostitution, jumlah perempuan yang menjadi pekerja seks komersial (PSK) meningkat 1/3 dari angka biasanya. Itu karena biaya hidup yang tinggi.

Kondisi ini juga berpengaruh pada angka tunawisma di Inggris. Pada kuartal pertama tahun ini saja, jumlah rumah tangga di Inggris yang termasuk tunawisma, atau menjadi terancam tunawisma naik 5,4% dibandingkan tahun lalu, menjadi 74.230 rumah tangga.

2. Sewa Rumah Naik Tinggi

Salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di London, Dyah (39) mengatakan kondisi perumahan di Inggris sangat anomali. Selain kapasitas akomodasi yang terbatas, harga sewa juga meningkat drastis bahkan mencapai 100%.

"Kondisi ekonomi Inggris Raya belakangan ini dapat saya sampaikan dalam kondisi tidak baik. Biaya hidup di Inggris Raya meningkat sangat signifikan, harga sewa meningkat drastis bahkan mencapai 100%," kata Dyah saat dihubungi detikcom, Minggu (25/9).

3. Cari Makanan 'Sisa'

WNI lain Eva mengatakan harus menghemat pengeluaran untuk makan, hingga jalan-jalan atau hiburan untuk bertahan hidup di tengah krisis Inggris. Maklum, sebagai penerima beasiswa pemasukan utamanya adalah berasal dari uang beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

"Strategi untuk bertahan hidupnya sama seperti di Indonesia, bagaimana kalau kita merantau kita menghemat pengeluaran untuk makan, konsumsi seperti pakaian atau hiburan, atau soal barang-barang tersier lainnya," kata Eva.

Selain itu, dirinya juga harus pintar-pintar hemat energi yang saat ini tagihannya semakin mahal. Eva menyebut beberapa mahasiswa Indonesia di Inggris saat ini lebih memilih belajar di kampus daripada tempat kost atau apartemen.

"Karena untuk mengurangi biaya listrik dan pemanas ruangan. Selain itu di kampus kan bisa lebih terkonsentrasi, kalau di rumah tidur terus ntar," tambahnya.

Biaya hidup di Inggris yang mahal juga membuatnya harus mencari diskonan bahan sembako untuk dimasak. Di Inggris, kata Eva, semakin hari gelap maka harga sembako di minimarket bisa jadi setengah harga karena kondisinya kurang layak.

"Di Inggris itu setiap jam-jam tertentu biasanya sore menjelang malam atau siang menjelang sore, beberapa bahan makanan di minimarket itu mengalami penurunan harga karena dianggap sudah kurang layak. Tapi kalau dibawa ke standar Indonesia tuh masih bagus banget seperti daging ayam, buah-buahan, sandwich itu bisa setengah harga dari harga aslinya," ucapnya.

4. Banyak Toko Tutup

Banyak pertokoan memutuskan tutup di kota Stoke-on-Trent dan Chatham karena semakin sulit mendapat untung di tengah inflasi yang tinggi.

Jutaan warga Inggris rela tidak makan demi bisa membayar tagihan listrik yang melonjak tinggi. Laporan Money Advice Trust memuat bahwa sekitar 20% orang dewasa Inggris atau 10,9 juta orang menunggak tagihan listrik, naik 3 juta atau sekitar 45% sejak Maret 2022.

Tak hanya sampai di situ, terdapat 5,6 juta warga rela tidak makan dalam tiga bulan terakhir sebagai akibat dari krisis biaya hidup. Jajak pendapat dilakukan ke 2.000 orang dewasa Inggris di Agustus 2022.

"Ini termasuk melewatkan makan sekali sehari atau tidak makan sama sekali pada beberapa hari," tulis laporan tersebut dikutip dari The Guardian, Senin (26/9).

5. Anak-anak Kunyah Karet

Anak-anak juga merasakan dampak krisis di Inggris. Anak-anak di Inggris dilaporkan alami kelaparan sampai rela mengunyah karet. Akibat tak mampu membeli makanan, tak sedikit dari mereka memilih pergi ke taman saat jam makan siang. Kondisi memilukan ini dialami anak-anak di banyak sekolah di Inggris.

Satu sekolah di Lewisham, London Tenggara, memberi tahu ada anak yang berpura-pura makan dari kotak makan kosong karena tidak ingin teman-temannya tahu bahwa tidak ada makanan di rumahnya.

"Kami mendengar tentang anak-anak yang sangat lapar sehingga mereka makan karet di sekolah. Anak-anak datang belum makan apa pun sejak makan siang sehari sebelumnya. Pemerintah harus melakukan sesuatu," kata Kepala Eksekutif Chefs in Schools, Naomi Duncan dikutip dari The Guardian, Sabtu (1/10).

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT