Harga Minyak US$ 80 Tak Bisa Dihindari
Sabtu, 15 Jul 2006 11:41 WIB
New York - Harga minyak dunia terus meroket seiring memanasnya suhu geopolitik di Timur Tengah. Para pialang minyak dunia pun semakin yakin harga minyak US$ 80 per barel tidak bisa dihindari lagi.Di New York, harga minyak jenis light untuk pengiriman Agustus pada perdagangan Jumat (14/7/2006) naik 33 sen naik US$ 77,03 per barel. Harga minyak overnight sempat menyentuh US$ 78,44 per barel pada transaksi elektronik.Sementara minyak jenis Brent pada perdagangan di London naik 58 sen ke level US$ 77,27 per barel. Jika dilakukan penyesuaian terhadap inflasi, harga minyak dunia pernah mencapai level tertinggi pada tahun 1979 saat terjadi revolusi Iran yang menyebabkan harga minyak mencapai US$ 85 per barel jika dikonversi dengan mata uang saat ini."Sepertinya (harga minyak) menyentuh US$ 80 per barel tidak dapat dihindarkan," ujar Victor Shum, analis konsultan energi Purvin and Gertz di Singapura seperti dikutip dari AFP, Sabtu (15/7/2006).Harga minyak sendiri terus menanjak sejak pertengahan pekan ini setelah Israel menyerang Libanon. Serangan itu dikhawatirkan bisa memperpanas situasi di Timur Tengah yang merupakan 'surga' minyak."Harga minyak sangat sensitif terhadap suhu di Timur Tengah, yang merupakan sumber lebih dari seperlima produksi dunia," ujar analis dari Sucden, Michael Davies.Jika kondisi di Timur Tengah kian memanas, para pialang bahkan yakin harga minyak bisa semakin mendekati US$ 100 per barel. "Saya tidak ingin membuat pasar panik, tapi saya kira pasar harus mengerti bahwa (harga minyak) tiga digit bukan lagi sebuah fantasi dan benar-benar sangat mungkin," tambah Tony Nunan, analis energi dari Mitsubishi Corp.
(qom/)











































