Pemerintah Pertahankan Asumsi Harga Minyak APBN-P 2006
Sabtu, 15 Jul 2006 13:39 WIB
Jakarta - Kendati harga minyak dunia kini terus meroket dan menyentuh level US$ 78 per barel, pemerintah belum berniat untuk mengubah asumsi harga minyak dalam APBN-P 2006 yang baru saja diajukan ke DPR.Dalam APBN-P 2006, pemerintah menetapkan asumsi harga minyak mentah sebesar US$ 62 per barel, yang merupakan revisi dari asumsi semula dalam APBN 2006 US$ 57 per barel."Kita lihat saja, kenaikan harga minyak itu kan jangka pendek. Kita sudah sampaikan APBN-P sampai akhir tahun baik pertumbuhen ekonomi, peerimaan dan pengeluaran negara. Jadi kita strick di situ aja dulu," kata Menko Perekonomian Boediono.Ia menyampaikan hal itu usai pertemuan membahas Kawasan Ekonomi Khusus di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (15/7/2006).Hal senada disampaikan Menkeu Sri Mulyani yang menilai kenaikan harga minyak hanya akan bersifat jangka pendek. Sri Mulyani juga menegaskan bahwa tidak mungkin merevisi APBN terus menerus. Boediono meyakini harga minyak dunia tidak akan terus menerus bertahan pada puncaknya dan kemungkinan akan turun dalam bulan-bulan ke depan. Ia pun mengutip pernyataan CEO Shell dan ditulis oleh Newsweek yang mengatakan bahwa harga minyak ke depan bisa turun. Dosen Ekonomi UGM ini menegaskan, kenaikan harga minyak saat ini terjadi karena ada semacam bubble yang ditimbulkan oleh banyaknya hedge fund yang bermain di sektor minyak dunia. "Hampir ratusan triliun atau miliaran dolar yang masuk ke pasar dunia oleh hedge fund. Jadi ini satu gelembung juga," jelasnya.Boediono juga meminta semua pihak tetap tenang dengan terus mencermati pergerakan harga minyak dari hari ke hari. "Kita tenang saja sambil lihat saja. Jangan bayangkan yang buruk, kita siapkan hal-hal yang mungkin terjadi," ujarnya.
(qom/)











































